<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>CintaAllah.org</title>
	<atom:link href="http://cintaallah.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cintaallah.org</link>
	<description>Mengajarkan Islam Yang Sesungguhnya</description>
	<lastBuildDate>Thu, 20 Jun 2013 01:52:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>Sayyidah Aisyah, Keutamaan dan Keluasan Ilmunya</title>
		<link>http://cintaallah.org/biografi-sayyidah-aisyah/</link>
		<comments>http://cintaallah.org/biografi-sayyidah-aisyah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Jun 2013 01:52:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hamba Allah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Istri Nabi saw]]></category>
		<category><![CDATA[biografi istri nabi saw sayyidah aisyah]]></category>
		<category><![CDATA[biografi sayyidah aisyah ra]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan sayyidah aisyah]]></category>
		<category><![CDATA[penjelasan sayyidah aisyah]]></category>
		<category><![CDATA[profile sayyidah aisyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cintaallah.org/?p=1407</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Beliau, Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq, atau juga biasa dipanggil dengan al-Shiddiqiyah yang dinisbatkan kepada al-Shiddiq yaitu orang tuanya sendiri Abu Bakar, kekasih Rasulullah SAW. Seorang wanita mulia dan istimewa dimana sebagian dari ilmu agama kita ini diambil darinya. Begitu banyak keutamaan dan kemuliaan yang dimilikinya, semoga Allah meridhainya dan mengumpulkannya dengan kekasihnya yang [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://cintaallah.org/wp-content/uploads/2013/06/cahaya.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1408" alt="cahaya" src="http://cintaallah.org/wp-content/uploads/2013/06/cahaya.jpg" width="400" height="300" /></a></p>
<p>Beliau, Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq, atau juga biasa dipanggil dengan al-Shiddiqiyah yang dinisbatkan kepada al-Shiddiq yaitu orang tuanya sendiri Abu Bakar, kekasih Rasulullah SAW. Seorang wanita mulia dan istimewa dimana sebagian dari ilmu agama kita ini diambil darinya. Begitu banyak keutamaan dan kemuliaan yang dimilikinya, semoga Allah meridhainya dan mengumpulkannya dengan kekasihnya yang paling dicintainya yaitu Nabi kita Muhammad SAW.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Semoga setelah membaca kisah ini hati kita akan tersentuh dan semakin menambah rasa cinta kita kepada istri-istri Beliau. Beberapa keutamaannya tidak dapat dihitung dengan jari sehingga hanya sebagian kecil yang dapat dipaparkan disini, diantarnya adalah sebagai berikut :</p>
<p>1.Kecintaan Rasulullah kepadanya melebihi kecintaannya kepada istri-istri beliau yang lainnya yang semuanya ada 9 orang. Pada suatu ketika Rasulullah ditanya, “Siapakah orang yang paling engkau cintai ?” maka beliau menjawab, “Aisyah” Hal ini didasarkan kepada hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Amr bin ‘Ash, dimana dia datang kepada Nabi seraya bertanya,”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling engkau cintai?” beliau menjawab,”Aisyah”, kemudian Amr bin Ash bertanya, “”Siapakah orang lelaki yang paling engkau cintai?” , beliau menjawab “Bapaknya (Abu Bakar)”. Dia bertanya, “Kemudian siapa lagi?” beliau menjawab “Umar”, yakni Ibnu Al Khaththab, semoga Allah meridhai semuanya.</p>
<p>2.Malaikat menyampaikan salam untuknya bukan hanya sekali. Sebagaimana hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim darinya (Aisyah), dimana Rasulullah telah bersabda, “Sesungguhnya Jibril telah mengucapkan salam untukmu”, maka aku menjawab,”Alaihis as-Salam”.</p>
<p>3. Allah telah menurunkan ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan pembebasan dirinya dari tuduhan dusta sebanyak sepuluh ayat dalam surat An-Nuur, dimana didalamnya Allah menjelaskan bahwa laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik, dan beliau tergolong wanita yang baik, membebaskan mereka dari tuduhan orang-orang yang menyebarkan tuduhan dusta itu, dan memberi kabar gembira bahwa bagi mereka surga, sebagaimana Allah berfirman,..”dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik pula. Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga) ” An-Nuur:26.</p>
<p>4.Pada saat Rasulullah sakit, beliau minta untuk tinggal dikamarnya (Aisyah), sehingga dia dapat mengurusnya sampai Allah memanggil ke hadirat-Nya (wafat). Rasulullah meninggal di rumah Aisyah, dimana beliau meninggal dalam pangkuannya. Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan darinya (Aisyah), dia berkata:” Allah mewafatkan Rasulullah dimana kepala beliau berada diantara paru-paruku dan bagian atas dadaku, sehingga air liur beliau bercampur dengan air liurku” Bagaimana hal itu bisa terjadi, Abdurrahman saudara laki-laki Aisyah masuk ke rumah mereka , dimana ketika itu dia membawa siwak (alat penggosok gigi), lalu Rasulullah melihatnya. Aisyah memahaminya bahwa beliau ingin bersiwak, dan dia mengambil siwak dari Abdurrahman dan melembutkannya, lalu Rasulullah bersiwak dengannya. Setelah Rasulullah meninggal, maka siwak itu dipakai Aisyah. Inilah pengertian yang dimaksud dengan “air liur beliau bercampur dengan air liurku”.</p>
<p>5. Berdasarkan sabda Rasulullah,”Keutamaan Aisyah atas wanita yang lainnya bagaikan keutamaan tsarid (roti yang dibubuhkan dan dimasukkan kedalam kuah) atas makanan-makan yang lainnya”. Berkenaan dengan keluasan dan keunggulan ilmunya, tidak ada seorang ulamapun yang mengingkarinya.Banyak kesaksian dan pengakuan yang dikemukakan para ulama berkenaan dengan kredibilitas keilmuwan Aisyah. Hal ini menunjukkan betapa luas dan mumpuninya ilmu yang dimilikinya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kesaksian beberapa pakar ilmu pengetahuan dari kalangan ulama terdahulu :</p>
<p>5.1. Kesaksian putra saudara perempuannya (keponakannya) Urwah bin Zubeir tentang kredibilitas dan keunggulan ilmu yang dimiliki oleh Aisyah, sebagaimana yang diriwayatkan putranya Hisyam,”Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih pintar dalam ilmu fiqh (agama), kedokteran dan syair selain Aisyah.</p>
<p>5.2. Kesaksian Az-Zuhri yang juga berkenaan dengan kredibilitas dan keunggulan ilmu yang dimiliki Aisyah, seraya berkata,”Seandainya diperbandingkan antara ilmu Aisyah dengan ilmu seluruh istri Nabi dan ilmu seluruh wanita, niscaya ilmu Aisyah jauh lebih unggul.”</p>
<p>5.3. Kesaksian Masruq berkenaan dengan ilmu yang dimiliki Aisyah yang berkenaan dengan masalah faraidh, sebagaimana yang terungkap dalam sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Abu Darda darinya seraya berkata, “Aku melihat para syeikh dari kalangan sahabat Rasulullah bertanya kepada Aisyah tentang faraidh (ilmu waris)</p>
<p>5.4. Kesaksian Atha’ bin Rabah, dimana ketika Allah berfirman, maka Aisyah merupakan orang yang paling faham, paling mengetahui dan paling bagus pendapatnya dibandingkan dengan yang lainnya secara umum.</p>
<p>5.5. Kesaksian Zubeir bin Awwam, dimana dia berkata sebagaimana hal ini telah diriwayatkan putranya Urwah, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih pintar tentang Al-Qur’an , hal-hal yang difardhukan, halal dan haram, syair, cerita Arab dan nasab (silsilah keturunan) selain Aisyah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dengan mengemukakan lima kesaksian yang dipaparkan oleh para ulama besar dari kalangan sahabat dan tabi’in cukuplah sebagai bukti yang menunjukkan kredibilitas dan keunggulan ilmu yang dimiliki oleh Aisyah dibandingkan dengan ilmu yang dimiliki oleh para Sahabat Rasulullah dan para tabi’in lainnya. Aisyah meninggal pada bulan Ramadhan yang agung tepat pada tanggal 17 Ramadhan, pada usia 66 tahun. Dan, dimakamkan di Al-Baqi’ kawasan pemakaman yang terletak di kota Madinah. Hal ini sesuai dengan wasiatnya, dimana beliau berwasiat agar di makamkan di tempat pemakaman istri-istri Rasulullah.</p>
<p>Semoga Allah meridhainya …………amin.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>(Sumber: Ilmu dan Ulama Pelita Kehidupan Dunia dan Akhirat, Pustaka Azzam.)</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cintaallah.org/biografi-sayyidah-aisyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa itu Thariqah Alawiyin?</title>
		<link>http://cintaallah.org/apa-itu-thariqah-alawiyin/</link>
		<comments>http://cintaallah.org/apa-itu-thariqah-alawiyin/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Jun 2013 05:15:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hamba Allah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian thariqah alawiyin]]></category>
		<category><![CDATA[penjelasan thariqah alawiyin]]></category>
		<category><![CDATA[tentang thariqah alawiyin]]></category>
		<category><![CDATA[thariqah alawiyin]]></category>
		<category><![CDATA[thariqah bani alawyin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cintaallah.org/?p=1402</guid>
		<description><![CDATA[Habib Abdurrahman bin Abdullah bin Ahmad Bilfaqih Ba Alawi (penulis buku Ar-Rosyafât) pernah ditanya, &#8220;Apa dan bagaimana thoriqoh Bani Alawi (Sâdah Âl Abiy &#8216;Alawiy) itu? Apakah cukup didefinisikan dengan ittibâ&#8217; (mengikuti) Quran dan sunah? Apakah di antara mereka terdapat perbedaan pendapat? Apakah thoriqoh mereka bertentangan dengan thoriqoh- thoriqoh yang lain?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Ketahuilah, sesungguhnya thoriqoh [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1403" class="wp-caption aligncenter" style="width: 650px"><a href="http://cintaallah.org/wp-content/uploads/2013/06/Habibb-Umar.jpg"><img class="size-full wp-image-1403" alt="Habibb Umar" src="http://cintaallah.org/wp-content/uploads/2013/06/Habibb-Umar.jpg" width="640" height="427" /></a><p class="wp-caption-text">Foto Habib Umar Bin Hafidz &#8211; Ulama dunia yang berpegang teguh pada Thariqah Alawiyin</p></div>
<p><b>Habib</b> Abdurrahman bin Abdullah bin Ahmad Bilfaqih Ba Alawi (penulis buku <b><i>Ar-Rosyafât</i></b>) pernah ditanya, &#8220;Apa dan bagaimana thoriqoh Bani Alawi (<i>Sâdah Âl Abiy &#8216;Alawiy</i>) itu? Apakah cukup didefinisikan dengan <i>ittibâ&#8217;</i> (mengikuti) Quran dan sunah? Apakah di antara mereka terdapat perbedaan pendapat? Apakah thoriqoh mereka bertentangan dengan thoriqoh- thoriqoh yang lain?&#8221;</p>
<p>Beliau menjawab, &#8220;Ketahuilah, sesungguhnya thoriqoh Bani Alawi merupakan salah satu thoriqoh kaum sufi yang asasnya adalah <i>ittibâ&#8217;</i> (mengikuti) Quran dan sunah, puncaknya (<i>ro&#8217;suhâ</i>/intinya) adalah <i>sidqul iftiqôr</i> (benar-benar merasa butuh kepada Allah) dan <i>syuhûdul minnah</i> (bersaksi bahwa semuanya merupakan karunia Allah). Thoriqoh ini mengikuti (<i>ittibâ&#8217;</i>) <i>manshûsh</i> [1] dengan cara khusus dan menyempurnakan semua dasar (<i>ushûl</i>) untuk menyegerakan <i>wushûl.<span id="more-1402"></span></i></p>
<p>Jadi thoriqoh Bani Alawi lebih dari sekedar mengikuti Quran dan Sunah secara umum dengan mempelajari hukum-hukum <i>zhohir.</i> Pokok bahasan ilmu ini sifatnya umum dan universal, sebab tujuannya adalah untuk menyusun aturan yang juga mengikat orang-orang bodoh dan kaum awam lainnya. Tidak diragukan, bahwa kedudukan manusia dalam agama berbeda-beda. Oleh karena itu diperlukan ilmu khusus untuk orang-orang khusus, yakni ilmu yang menjadi pusat perhatian kaum <i>khowwash:</i> ilmu yang membahas hakikat takwa dan perwujudan ikhlas. Demikian itulah jalan lurus (<i>shirôthol mustaqîm</i>) yang lebih tipis dari sehelai rambut.</p>
<p>Sesungguhnya ilmu tasawuf tidak cukup disampaikan secara umum, bahkan setiap bagian darinya perlu didefinisikan secara khusus. Demikian itulah ilmu tasawuf, ilmu yang oleh kaum sufi digunakan sebagai kendaraan untuk menghampiri Allah <i>Ta&#8217;âlâ.</i> <i>Zhohir</i> jalan kaum sufi adalah ilmu dan amal, sedangkan batinnya adalah kesungguhan (<i>sidq</i>) dalam ber-<i>tawajjuh</i> kepada Allah <i>Ta&#8217;âlâ</i> dengan mengamalkan segala perbuatan yang diridhoi-Nya dengan cara yang diridhoi-Nya.</p>
<p>[1] <i>Manshûsh</i> adalah semua yang disyariatkan.<b>AN II</b></p>
<p>Jalan ini menghimpun semua akhlak luhur dan mulia, menyingkirkan sifat-sifat hina dan tercela. Puncak tujuannya adalah untuk meraih kedekatan dengan Allah dan <i>fath.</i> Jalan ini mengajarkan seseorang untuk menyandang sifat-sifat mulia dan beramal saleh, serta mewujudkan (<i>tahqîq</i>) <i>asrôr,</i> <i>maqômât</i> dan <i>ahwâl.</i> Thoriqoh ini diwariskan oleh kaum <i>sholihin</i> kepada orang-orang saleh dengan pengamalan, <i>dzauq</i> dan tindak-tanduk, sesuai <i>fath</i>, kemurahan dan karunia yang diberikan Allah sebagaimana syairku dalam <i>Ar-Rasyafât:</i></p>
<p><span style="color: #008000;"><i>Orang yang menguasai semua ilmu syariat<br />
namun tidak merasakan manisnya makrifat<br />
maka dia lalai dan lelap dalam tidurnya</p>
<p>Takutlah kepadanya, seperti takutnya orang<br />
yang kebingungan<br />
ketika menghadapi ancaman maut dan segala<br />
yang menakutkan</p>
<p>Makrifat diraih berkat curahan karunia Ilahi<br />
atau fath<br />
setelah usaha sungguh-sungguh,<br />
bukan dari riwayat yang disampaikan makhluk<br />
dan buku,<br />
juga bukan dari tutur kata manusia.</p>
<p>Sungguh beruntung orang yang baik persiapannya<br />
dan hatinya bebas dari perbudakan makhluk-Nya<br />
Petunjuk akan menetap di benaknya<br />
Ia pun merasakan sepercik makrifat di hatinya</p>
<p>Sungguh sepercik (makrifat) dari gelas yang disegel<br />
telah memenuhi hati dengan berbagai ilmu,<br />
melindungi pemahaman dari keraguan<br />
dan membebaskan akal dari segala belenggu</i></span></p>
<p>Ketahuilah, thoriqoh Bani Alawi ini: <i>zhohir</i>-nya adalah ilmu-ilmu agama dan amal, sedangkan batinnya adalah men-<i>tahqîq</i> berbagai <i>maqôm</i> dan <i>ahwâl.</i> Adab thoriqoh ini adalah menjaga <i>asrôr,</i> dan timbul <i>ghirah</i> jika <i>asrôr</i> tadi diungkapkan. Jadi, <i>zhohir</i> thoriqoh Bani Alawi adalah ilmu dan amal di atas jalan lurus sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ghozali. Dan bathin thoriqohnya adalah <i>tahqîqul haqîqoh</i> dan <i>tajrîdut tauhîd</i> sebagaimana dijelaskan dalam thoriqoh Syadziliyah.</p>
<p>Ilmu Bani Alawi adalah ilmunya kaum (sufi) dan <i>rusûm</i> mereka menghapus <i>rusûm.</i> Mereka mendekatkan diri kepada Allah dengan semua amal. Mereka juga mengikat perjanjian (<i>&#8216;ahd</i>), mengucapkan <i>talqîn,</i> mengenakan <i>khirqoh,</i> menjalani <i>kholwat, riyâdhoh,</i> <i>mujâhadah,</i> dan mengikat tali persaudaraan. <i>Mujâhadah</i> terbesar mereka adalah penyucian hati, persiapan untuk menghadang karunia-karunia Ilahi dengan menempuh jalan nan lurus, dan mendekatkan diri kepada Allah <i>Ta&#8217;âlâ</i> dengan menjalin persahabatan dengan orang-orang yang memiliki petunjuk <i>(ahlil irsyâd).</i></p>
<p>Dengan <i>tawajuh</i> yang <i>sidq,</i> Allah pasti akan memberikan karunia-Nya. Dan dengan perjuangan yang sungguh-sungguh Allah pasti akan memberikan <i>fath.</i> Allah berfirman:</p>
<p><i>&#8220;Dan orang-orang yang berjuang untuk (mencari keridhoan) Kami, pasti akan Kami tunjukkan (kepada mereka) jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang suka berbuat baik.&#8221;</i> (QS Al-Ankabut, 29:69)</p>
<p>Sumber thoriqoh Bani Alawi adalah thoriqoh <i>Madîniyyah,</i> yakni thoriqoh Syeikh Abu Madyan Syu&#8217;aib Al-Maghrobi. Sedangkan pusat dan sumber hakikat thoriqoh Bani Alawi adalah <i>Al-Fardu Al-Ghauts Syeikh Al-Faqih Al-Muqoddam</i> Muhammad bin Ali Ba Alawi Al-Huseini Al-Hadhromi.</p>
<p>Thoriqoh ini diturunkan oleh orang-orang saleh yang memiliki <i>maqômât</i> dan <i>ahwâl,</i> dan merupakan thoriqoh <i>tahqîq</i> (pengamalan dan pembuktian), <i>dzauq</i> dan <i>asrôr.</i> Oleh karena itu, mereka memilih bersikap <i>khumûl,</i> menyembunyikan diri, dan tidak meninggalkan tulisan tentang thoriqoh ini. Mereka mengambil sikap demikian sampai zaman Alaydrus (Habib Abdullah Alaydrus bin Abubakar As-Sakran) dan adik beliau Syeikh Ali (bin Abubakar As-Sakran).</p>
<p>Setelah banyak yang melakukan perjalanan, maka ruang gerak (Alawiyin) semakin luas. Yang dekat dapat saling berhubungan, tapi tidak demikian halnya dengan yang jauh. Karena itu dibutuhkan usaha untuk menyusun buku dan memberikan penjelasan. <i>Alhamdulillâh,</i> muncullah beberapa karya yang melapangkan dada dan menyenangkan hati, seperti: <i>Al-Kibrîtul Ahmar, Al-Juz-ul lathîf, Al-Ma&#8217;ârij, Al-Barqoh,</i> dan karya-karya lain yang cukup banyak dan masyhur.</p>
<p>Dikutip Putera Riyadi dari: <b><br />
Al-&#8217;Uqûdul Lu`lu`iyyah fî Bayâni Thorîqotis<br />
Sâdatil &#8216;Alawiyyah </b><br />
Habib Muhammad bin Husein bin Abdullah<br />
bin Syeikh Al-Habsyi</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cintaallah.org/apa-itu-thariqah-alawiyin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku akan Menggendongmu</title>
		<link>http://cintaallah.org/aku-akan-menggendongmu/</link>
		<comments>http://cintaallah.org/aku-akan-menggendongmu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 May 2013 02:10:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hamba Allah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[menggendong]]></category>
		<category><![CDATA[menolong berjalan]]></category>
		<category><![CDATA[menolong dalam perjalan]]></category>
		<category><![CDATA[menolong orang]]></category>
		<category><![CDATA[perjalanan menolong]]></category>
		<category><![CDATA[pertolongan orang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cintaallah.org/?p=1397</guid>
		<description><![CDATA[ Alkisah pada suatu hari Sahl melakukan perjalanan bersama Ibrahim bin Adham ra, Selama perjalanan ,Ibrahim bin adham,membiayai segala keperluan Sahl hingga uang beliau habis tak bersisa.Dalam perjalan tersebut,Sahl kemudian sakit dan membutuhkan sesuatu.Karena tidak lagi memiliki uang,Ibrahim bin Adham pun menjual keledainya dan menggunakan uang hasil penjualan keledai tersebut untuk membeli keperluan Sahl. Melihat Ibrahim [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://cintaallah.org/wp-content/uploads/2013/05/perjalanan.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-1398" alt="perjalanan" src="http://cintaallah.org/wp-content/uploads/2013/05/perjalanan.jpg" width="600" height="400" /></a></p>
<p> Alkisah pada suatu hari Sahl melakukan perjalanan bersama Ibrahim bin Adham ra,</p>
<p>Selama perjalanan ,Ibrahim bin adham,membiayai segala keperluan Sahl hingga uang beliau habis tak bersisa.Dalam perjalan tersebut,Sahl kemudian sakit dan membutuhkan sesuatu.Karena tidak lagi memiliki uang,Ibrahim bin Adham pun menjual keledainya dan menggunakan uang hasil penjualan keledai tersebut untuk membeli keperluan Sahl.<span id="more-1397"></span></p>
<p>Melihat Ibrahim bin Adham tanpa keledainya,Sahl bertanya kepada Ibrahim,’Duhai Ibrahim,kemakah kiranya keladai tungganganmu?’</p>
<p>‘Aku telah menjualnya,saudaraku’ Jawab Ibrahim.</p>
<p>‘Duhai saudaraku,bagaimana kita akan melanjutkan perjalanan kita tampa kendaraan?’ sela Sahl kepada sahabatnya.’Jangan khawatir,aku akan menggendongmu,’jawab Ibrahim bin Adham dengan ringan dan kemudian menggendong sahabatnya hingga melalui tiga kota.</p>
<p><b><span style="text-decoration: underline;">Hikmah Dibalik Kisah,</span></b></p>
<p>Dalam kisah diatas dalam melihat bagaimana Syech Ibrahim bin Adham ra melayani Sahl.Sedikitpun beliau tidak merasa berat untuk melayani teman perjalanannya tersebut.Seakan beliau adalah sang budak sedangkan temannya sebagai tuannya.Apapun yang beliau miliki,beliau korbankan demi membahagiakan temannya itu.Demikianlah ahlak pemimpin sejati,sebagaimana sabda<span style="color: #008000;"> Rosul saw : Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka (HR.Abu Nu’aim)</span></p>
<p>Saudaraku,segala karunia yang diberikan Allah kepada kita merupakan sarana untuk menggapai ridhoNya serta mendapatkan surgaNya.Sayangnya,sering kali kita menyia-nyiakan kesempatan itu.Menolong seorang sesuai kemampuan sebenarnya tidak sulit,namun dizaman sekarang ini semakin sedikit orang yang peduli kepada orang lain.</p>
<p>Padahal Allah SWT akan menolong dan mengobulkan hajat orang yang menolong orang lain.</p>
<p><span style="color: #008000;">Dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya (HR.Muslim)</span></p>
<p><span style="color: #008000;">Dan Allah senantiasa akan mewujudkan hajat seorang hamba selama hamba itu mau mewujudkan hajat saudaranya (HR. Nasa’i)</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cintaallah.org/aku-akan-menggendongmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adakah PLURALISME dalam Beragama?</title>
		<link>http://cintaallah.org/pluralisme-agama/</link>
		<comments>http://cintaallah.org/pluralisme-agama/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 May 2013 02:00:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hamba Allah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[ajaran pluralisme]]></category>
		<category><![CDATA[akidah pluralisme]]></category>
		<category><![CDATA[bahaya pluralisme]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[hukum pluralisme]]></category>
		<category><![CDATA[islam pluralisme]]></category>
		<category><![CDATA[masalah pluralisme]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian pluralisme]]></category>
		<category><![CDATA[pluralisme]]></category>
		<category><![CDATA[pluralisme agama]]></category>
		<category><![CDATA[sesatnya pluralisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cintaallah.org/?p=1383</guid>
		<description><![CDATA[إنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) [البقرة: 62] Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://cintaallah.org/wp-content/uploads/2013/05/PLURALISME.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-1384" alt="PLURALISME dalam bergama,PLURALISME agama,agama dalam PLURALISME" src="http://cintaallah.org/wp-content/uploads/2013/05/PLURALISME-300x235.jpg" width="400" height="335" /></a></p>
<p dir="RTL">إنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) [البقرة: 62]</p>
<p><i>Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.</i> (QS Al Baqarah &#8211; 62)</p>
<p><b>Syubhat</b></p>
<p>Ayat di atas merupakan bukti diakuinya faham pluralisme agama dalam Islam. Ungkapan yang disampaikan begitu jelas, setiap orang yang beramal <i>saleh</i>, maka ibadahnya akan diterima Allah tanpa memandang agamanya, baik Muslim, Nasrani, Yahudi atau lainnya.  Jadi, surga bukan monopoli suatu agama tetapi adalah milik semua yang berserah diri pada-Nya, apapun agamanya.</p>
<p><b>Kami Menjawab</b></p>
<p>Ayat-ayat Al Qur`an merupakan contoh keharmonisan yang monumental. Setiap ayat-ayat Al Quran memiliki makna yang serasi, saling menafsiri, dan jauh dari kontradiksi. Allah berfirman :</p>
<p dir="RTL">أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا  [النساء: 82]</p>
<p>“ <i>Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya</i> “ (QS An Nisa : 82)</p>
<p>Ayat-ayat Al Quran dengan lugas menerangkan batasan yang jelas antara agama yang benar dan agama yang salah, dan menegaskan dengan tanpa ada keraguan lagi mengenai agama yang benar disisi-Nya :</p>
<p dir="RTL">إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ [آل عمران: 19]</p>
<p><i>Sesungguhnya <b>agama</b> (yang diridhai) disisi Allah <b>hanyalah Islam</b></i><b> (</b>QS Ali Imran : 19)</p>
<p>Dalam ayat lain disebutkan :</p>
<p dir="RTL">الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا [المائدة: 3]</p>
<p><i>Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai <b>Islam itu jadi agama bagimu</b></i> (QS Al Ma`idah : 3)</p>
<p>Tidak hanya itu, Al Qur`an juga menjelaskan bahwa mereka yang yang mencari keselamatan di luar Islam, bukan hanya salah tapi juga akan menjadi orang-orang yang merugi di <i>akhirat</i> :</p>
<p dir="RTL">وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ <b> [آل عمران: 85</b><b>]</b></p>
<p><i>Barangsiapa mencari <b>agama</b> selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, <b>dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi</b></i><b>.</b> (QS Ali Imran : 85)</p>
<p>Seorang pendukung Pluralisme Fanatik, mungkin akan berusaha untuk memalingkan makna ayat-ayat di atas dengan mengatakan bahwa yang dimaksud Islam disini adalah <b>penyerahan diri secara total pada Tuhan</b> , dan bukan suatu kumpulan ibadah-ibadah yang dikatakan sebagai <b>agama</b>.</p>
<p>Kita tidak perlu mempedulikan ucapan tanpa dasar ini. Karena Allah telah menjelaskan dalam ketiga ayat di atas bahwa  islam adalah  <b>agama</b> di sisi-Nya, <b>agama</b> yang diridhai, dan <b>agama</b> satu-satunya. Allah berfirman bahwa islam adalah Agama.. , agama..,  agama. Dan dia masih berani berkata <b>itu</b> <b>bukan Agama</b>.</p>
<p>Jika kita masih ragu, perhatikanlah apa jawaban Rasulullah ketika ditanya mengenai Islam, Beliau bersabda :<b></b></p>
<p dir="RTL">يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِى عَنِ الإِسْلاَمِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَتُقِيمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِىَ الزَّكَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلاً.</p>
<p><i>“Islam itu adalah hendaknya engkau bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, dan engkau mendirikan Shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan berhaji ke Baitullah bagi orang yang mampu menempuhnya”</i> (HR Muslim) <sup>(1)</sup></p>
<p><b>Ayat-ayat Pluralisme</b></p>
<p>Mari kita renungkan firman Allah yang diklaim sebagai ayat pluralisme :</p>
<p dir="RTL">إنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ [البقرة: 62]</p>
<p><i>Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati</i> (QS Al Baqarah &#8211; 62)</p>
<p>Andai kita memahami ayat ini dari sudut pandang kaum pluralis, maka kita akan menemukan banyak kontradiksi dengan ayat-ayat lainnya, seperti tiga ayat di atas yang dengan jelas mengatakan agama yang benar hanyalah islam, atau ayat mengenai kafirnya Yahudi, Nasrani dan kaum Musyrik serta ancaman neraka bagi mereka di akhirat. Seperti dalam ayat :</p>
<p dir="RTL">إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ [البينة: 6]</p>
<p><i>Sesungguhnya <b>orang-orang yang kafir</b> yakni <b>ahli Kitab</b> dan <b>orang-orang yang musyrik</b> (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.</i> (QS Al Bayinah : 6 )</p>
<p>Ahli kitab yaitu kaum Yahudi dan Nasrani.</p>
<p>Terlebih lagi hal itu sama sekali tidak sesuai dengan perbuatan Nabi Muhammad, jika semua agama adalah benar, maka apa perlunya Nabi Muhammad saw mengutus utusan-utusan ke berbagai Negara dan bangsa untuk menyerukan mereka pada agama Islam dan mengancam mereka dengan azab di hari akhir bagi yang enggan memeluk islam<sup>(2) </sup>?</p>
<p>Lalu apa makna ayat tersebut ?</p>
<p>Sebenarnya makna ayat tersebut telah ditafsiri dengan ayat-ayat yang lain, Ketika kita membaca bahwa kaum Nasrani telah kafir dengan menganggap Isa sebagai tuhan<sup>(3)</sup></p>
<p dir="RTL">لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ [المائدة: 72[</p>
<p><i>Sesungguhnya <b>telah kafirlah</b> orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.</i> (QS Al Mai`dah : 72)</p>
<p>Ketika kita menemukan dalam Al Qur`an bahwa kaum Yahudi telah kafir karena mendustakan Muhammad, dan bermain-main dengan ayat-ayat tuhan<sup>(3)</sup>, dan kaum musyrik telah kafir karena mensekutukan Allah dengan yang lainnya <sup>(4)</sup>. Maka kita akan memahami bahwa maksud Yahudi, Nasrani dan Shabiin dalam ayat di atas bukanlah Nasrani yang menganggap Isa sebagai tuhan, bukan Yahudi yang tidak mempercayai Muhammad dan bukan pula orang-orang yang mensekutukan Allah. Lalu siapa mereka ?</p>
<p>para ahli tafsir telah memudahkan kita untuk mengetahui jawabannya. Mereka menyatakan mengenai makna ayat, bahwa orang-orang yang beriman kepada Allah <b>sebelum Allah mengutus Rasulullah saw</b>, seperti Qiss bin Saidah, Waroqoh bin Naufel, Salman Al farisi, dll,  begitu juga orang-orang Yahudi, Nasrani dan Shabiin. <b>Jika mereka beriman </b>kepada Allah, Hari Akhir dan kepada Muhammad <b>setelah Muhammad di utus kepada mereka</b>, mereka itulah  orang-orang yang beruntung. Sedangkan mereka yang tidak beriman kepada Muhammad, dan tetap pada agama Nasrani, Yahudi, atau Musyrik setelah diutusnya Rasulullah pada mereka, mereka tidak termasuk dalam ayat ini.<sup>(5)</sup></p>
<p>Ada juga sebagian kaum pluralis yang berdalil dengan ayat :</p>
<p dir="RTL">وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ [يونس: 99[</p>
<p><i>Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ?</i>  (QS Yunus : 99)</p>
<p>Mereka mengatakan jika Tuhan menghendaki maka dengan sangat mudah manusia dijadikan dalam satu agama saja, tetapi Allah menghendaki lain, ini menunjukkan perbedaan agama merupakan kehendak Tuhan, dan semua agama adalah bentukkan Tuhan yang memiliki kebenaran.</p>
<p>Ini merupakan argumentasi yang lucu. pembenaran suatu hal dengan alasan kehendak Tuhan  merupakan pembenaran yang yang lemah, karena dengan alasan yang sama kita bisa mengatakan untuk pembenaran tindak pembunuhan misalnya, “Jika Tuhan menghendaki tidak akan ada pembunuhan di muka bumi tetapi Tuhan mengghendaki lain”</p>
<p>Dan dengan alasan ini pula lah kaum <i>musyrik</i> menentang Rasulullah, Allah mencela mereka dalam ayat-Nya  :</p>
<p dir="RTL">سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ كَذَلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ حَتَّى ذَاقُوا بَأْسَنَا قُلْ هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوهُ لَنَا إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَخْرُصُونَ  [الأنعام: 148[</p>
<p><i>Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: "<b>Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya</b> dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun." Demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: "Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami?" Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan <b>kamu tidak lain hanyalah berdusta</b>.</i>(QS Al An`am : 148)</p>
<p><b>Pluralisme dan Pluralitas</b></p>
<p><a href="http://cintaallah.org/wp-content/uploads/2013/05/PLURALISME2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1387" alt="plularisme,plularisme dalam agama" src="http://cintaallah.org/wp-content/uploads/2013/05/PLURALISME2.jpg" width="254" height="199" /></a></p>
<p>Ada perbedaan antara pluralisme agama dan pluralitas agama. Pluralisme beragama adalah faham yang menyatakan bahwa semua agama itu benar. Sedangkan pluralitas adalah keanekaragaman agama. Islam menolak pluralisme tetapi tidak mengingkari adanya keanekaragaman agama di dunia. Islam mengakui eksistensi mereka, dan memberi ruang pada mereka tetapi tidak membenarkan ajaran mereka. Oleh karena itu dalam islam terdapat hukum bermuamalah dengan pemeluk agama lain.</p>
<p>Ini yang dinamakan dengan pluralitas agama, keanekaragaman agama yang diisyaratkan Allah dalam firmannya :</p>
<p dir="RTL">وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ  [هود: 118]</p>
<p><i>Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat</i> (QS Hud : 118)</p>
<p>islam memang menganjurkan umatnya untuk berdakwah tetapi tidak memaksakan kehendak bagi mereka yang tidak mau memasuki agama Islam dalam islam terkenal slogan yang berasal dari ayat Al Qur`an :</p>
<p dir="RTL">كُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ  [الكافرون: 6[</p>
<p><i>Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.</i>( QS Al Kafirun : 6)</p>
<p>Meski demikian bukan berarti kita mengakui kebenaran agama di luar islam,  Bersamaan slogan ini kita meyakini bahwa agama islam-lah yang benar, hal ini tersirat dalam ayat :</p>
<p dir="RTL">قُلْ أَتُحَاجُّونَنَا فِي اللَّهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ وَلَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُخْلِصُونَ [البقرة: 139]</p>
<p><i>Katakanlah: &#8220;Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati </i>(QS Al Baqarah : 139)</p>
<p>Perhatikan, setelah membebaskan manusia untuk beramal sesuai dengan keyakinanya kita di perintahkan untuk menyatakan bahwa ibadah kitalah yang ikhlas ditujukan pada Tuhan.</p>
<p align="center"><b>Referensi</b></p>
<p dir="RTL"><b> (1)</b><b>صحيح مسلم (1/  28)</b><b></b></p>
<p dir="RTL">102 &#8211; &#8230;&#8230;قَالَ حَدَّثَنِى أَبِى عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعَرِ لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِى عَنِ الإِسْلاَمِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « <span style="text-decoration: underline;">الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَتُقِيمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِىَ الزَّكَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلاً</span>. قَالَ صَدَقْتَ. قَالَ فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ. قَالَ فَأَخْبِرْنِى عَنِ الإِيمَانِ. قَالَ « أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ ». قَالَ صَدَقْتَ. قَالَ فَأَخْبِرْنِى عَنِ الإِحْسَانِ. قَالَ « أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ ». قَالَ فَأَخْبِرْنِى عَنِ السَّاعَةِ. قَالَ « مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ ». قَالَ فَأَخْبِرْنِى عَنْ أَمَارَتِهَا. قَالَ « أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِى الْبُنْيَانِ ». قَالَ ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا ثُمَّ قَالَ لِى « يَا عُمَرُ أَتَدْرِى مَنِ السَّائِلُ ». قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ ».  .</p>
<p dir="RTL"><b> (2)</b><b>صحيح البخاري (4/  1610</b><b>(</b><b></b></p>
<p dir="RTL">4162 &#8211; حدثنا إسحاق حدثنا يعقوب بن إبراهيم حدثنا أبي عن صالح عن ابن شهاب قال أخبرني عبيد الله بن عبد الله أن ابن عباس أخبره <span style="text-decoration: underline;"> : </span><span style="text-decoration: underline;">أن رسول الله صلى الله عليه و سلم بعث بكتابه إلى كسرى مع</span> عبد الله ابن حذافة السهمي فأمره أن يدفعه إلى عظيم البحرين فدفعه عظيم البحرين إلى كسرى فلما قرأه مزقه فحسبت أن ابن المسيب قال فدعا عليهم رسول الله صلى الله عليه و سلم أن يمزقوا كل ممزق</p>
<p dir="RTL"><b>صحيح مسلم (3/  1393</b><b>(</b><b></b></p>
<p dir="RTL">&#8230; 74 &#8211; ( 1773 )قال ثم دعا بكتاب رسول الله صلى الله عليه و سلم فقرأه فإذا فيه <span style="text-decoration: underline;">( بسم الله الرحمن الرحيم من محمد رسول الله إلى هرقل عظيم الروم سلام على من اتبع الهدى أما بعد فإني أدعوك بدعاية الإسلام أسلم تسلم وأسلم يؤتك الله أجرك مرتين وإن توليت فإن عليك إثم الأريسيين</span> { ويا أهل الكتاب تعالوا إلى كلمة سواء بيننا وبينكم أن لا نعبد إلى الله ولا نشرك به شيئا ولا يتخذ بعضنا بعضا أربابا من دون الله فإن تولوا فقولوا اشهدوا بأنا مسلمون } [ 3 / آل عمران / الآية 64 ] فلما فرغ من قراءة الكتاب ارتفعت الأصوات عنده وكثر اللغط وأمر بنا فأخرجنا قال فقلت لأصحابي حين خرجنا لقد أمر أمر ابن أبي كبشة إنه ليخافه ملك بني الأصفر قال فما زلت موقنا بأمر رسول الله صلى الله عليه و سلم أنه سيظهر حتى أدخل الله على الإسلام</p>
<p dir="RTL"><b> (3)</b><b>[البقرة: 89 - 92]</b><b></b></p>
<p dir="RTL">{وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ (89) بِئْسَمَا اشْتَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ أَنْ يَكْفُرُوا بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ بَغْيًا أَنْ يُنَزِّلَ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ فَبَاءُوا بِغَضَبٍ عَلَى غَضَبٍ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ مُهِينٌ (90) وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا نُؤْمِنُ بِمَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا وَيَكْفُرُونَ بِمَا وَرَاءَهُ وَهُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَهُمْ قُلْ فَلِمَ تَقْتُلُونَ أَنْبِيَاءَ اللَّهِ مِنْ قَبْلُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (91) }</p>
<p dir="RTL"><b> [المائدة: 64]</b><b></b></p>
<p dir="RTL">{وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ طُغْيَانًا وَكُفْرًا وَأَلْقَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ كُلَّمَا أَوْقَدُوا نَارًا لِلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللَّهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ}</p>
<p dir="RTL"><b>[النساء: 46]</b><b></b></p>
<p dir="RTL">{ مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ وَرَاعِنَا لَيًّا بِأَلْسِنَتِهِمْ وَطَعْنًا فِي الدِّينِ وَلَوْ أَنَّهُمْ قَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَاسْمَعْ وَانْظُرْنَا لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَقْوَمَ وَلَكِنْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا (46)}</p>
<p dir="RTL"><b>[الجمعة: 6، 7]</b><b></b></p>
<p dir="RTL">{ قُلْ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ هَادُوا إِنْ زَعَمْتُمْ أَنَّكُمْ أَوْلِيَاءُ لِلَّهِ مِنْ دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (6) وَلَا يَتَمَنَّوْنَهُ أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ}</p>
<p dir="RTL"><b> [التوبة: 30، 31]</b><b></b></p>
<p dir="RTL">{وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ (30) اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ (31) }</p>
<p dir="RTL"><b>[البقرة: 120]</b><b></b></p>
<p dir="RTL">{وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ }</p>
<p dir="RTL"><b>[المائدة: 18، 19]</b><b></b></p>
<p dir="RTL">{وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ (18) يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ عَلَى فَتْرَةٍ مِنَ الرُّسُلِ أَنْ تَقُولُوا مَا جَاءَنَا مِنْ بَشِيرٍ وَلَا نَذِيرٍ فَقَدْ جَاءَكُمْ بَشِيرٌ وَنَذِيرٌ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ }</p>
<p dir="RTL"><b>[البقرة: 79]</b><b></b></p>
<p dir="RTL"> { فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ }</p>
<p dir="RTL"><b>[آل عمران: 78] </b><b></b></p>
<p dir="RTL">{وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ}</p>
<p dir="RTL"><b> (4)</b><b>[الحجر: 96، 97</b><b>[</b><b></b></p>
<p dir="RTL">الَّذِينَ يَجْعَلُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ (96) وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ (97)</p>
<p dir="RTL"><b>[المؤمنون: 117</b><b>[</b></p>
<p dir="RTL">وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ</p>
<p dir="RTL"><b>[ق: 26]</b><b></b></p>
<p dir="RTL">{الَّذِي جَعَلَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ فَأَلْقِيَاهُ فِي الْعَذَابِ الشَّدِيدِ }</p>
<p dir="RTL"><b> (5)</b><b>تفسير الرازي (2/  135</b><b>(</b><b></b></p>
<p dir="RTL">فلأجل هذا الإشكال ذكروا وجوهاً ، أحدها : وهو قول ابن عباس . المراد الذين آمنوا قبل مبعث محمد بعيسى عليهما السلام مع البراءة عن أباطيل اليهود والنصارى مثل قس بن ساعدة ، وبحيرى الراهب وحبيب النجار وزيد بن عمرو بن نفيل وورقة بن نوفل وسلمان الفارسي وأبي ذر الغفاري ووفد النجاشي فكأنه تعالى قال : <span style="text-decoration: underline;">إن الذين آمنوا قبل مبعث محمد والذين كانوا على الدين الباطل الذي لليهود والذين كانوا على الدين الباطل الذي للنصارى كل من آمن منهم بعد مبعث محمد عليه السلام بالله واليوم الآخر وبمحمد فلهم أجرهم عند ربهم</span></p>
<p dir="RTL"><b>تفسير الخازن (1/  49</b><b>(</b><b></b></p>
<p dir="RTL">. ولما ذكر هذه الوظائف قال { من آمن بالله واليوم الآخر } فإن قلت : كيف قال في أول الآية إن الذين آمنوا وقال في آخرها من آمن بالله فما فائدة التعميم أولاً ثم التخصيص آخراً قلت : اختلف العلماء في حكم الآية فلهم فيه طريقان أحدهما أنه أراد أن الذين آمنوا على التحقيق ثم اختلفوا فيهم فقيل هم الذين آمنوا في زمن الفطرة وهم طلاب الدين مثل حبيب النجار وقس بن ساعدة وورقة بن نوفل وبحيرا الراهب وأبي ذر الغفاري وسلمان الفارسي ، فمنهم من أدرك النبي صلى الله عليه وسلم وتابعه ومنهم من لم يدركه فكأنه تعالى قال <span style="text-decoration: underline;">: إن الذين آمنوا قبل مبعث النبي صلى الله عليه وسلم والذين كانوا على الدين الباطل المبدل من اليهود والنصارى والصابئين من آمن منهم بالله واليوم الآخر وبمحمد صلى الله عليه وسلم فلهم أجرهم عند ربهم</span> ، وقيل : هم المؤمنون من الأمم الماضية وقيل : هم المؤمنون من هذه الأمة والذين هادوا يعني الذين كانوا على دين موسى ولم يبدلوا والنصارى الذين كانوا على دين عيسى ولم يغيروا والصابئين يعني في زمن استقامة أمرهم من آمن منهم ومات وهو مؤمن لأن حقيقة الإيمان تكون بالوفاة . وأما الطريقة الثانية فقالوا؛ إن المذكورين بالإيمان في أول الآية إنما هو على طريق المجاز دون الحقيقة وهم الذين آمنوا بالأنبياء الماضين ولم يؤمنوا بك وقيل : هم المنافقون الذين آمنوا بألسنتهم ولم يؤمنوا بقلوبهم واليهود والنصارى والصابئون ، فكأنه تعالى قال هؤلاء المطلوبون كل من آمن منهم بالإيمان الحقيقي صار مؤمناً عند الله ، وقيل : إن المراد من قوله إن الذين آمنوا بمحمد صلى الله عليه وسلم في الحقيقة حين الماضي ، ثبتوا على ذلك المستقبل وهو المراد من قوله تعالى : { من آمن بالله واليوم الآخر وعمل صالحاً } أي في إيمانه { فلهم أجرهم عند ربهم } أي جزاء أعمالهم { ولا خوف عليهم ولا هم يحزنون } أي في الآخرة .</p>
<p dir="RTL"><b>تفسير القرطبي (1/  471</b><b>(</b><b></b></p>
<p dir="RTL">الثامنة : روي عن ابن عباس أن قوله : { إن الذين آمنوا والذين هادوا } الآية منسوخ بقوله تعالى : { ومن يبتغ غير الإسلام دينا فلن يقبل منه } الآية وقال غيره <span style="text-decoration: underline;">: ليست بمنسوخة وهي فيمن ثبت على إيمانه من المؤمنين بالنبي عليه السلام</span></p>
<p dir="RTL">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cintaallah.org/pluralisme-agama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Merokok Menurut Para Salaf</title>
		<link>http://cintaallah.org/hukum-merokok/</link>
		<comments>http://cintaallah.org/hukum-merokok/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 May 2013 03:48:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hamba Allah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Kitab]]></category>
		<category><![CDATA[dalili merokok]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[hukum merokok]]></category>
		<category><![CDATA[hukum perokok]]></category>
		<category><![CDATA[keburukan merokok]]></category>
		<category><![CDATA[merokok dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[salaf menyikapi perokok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cintaallah.org/?p=1378</guid>
		<description><![CDATA[Bahaya merokok sudah sering kita dengar, bahkan di setiap bungkus rokok tertera mengenai penyakit-penyakit yang bisa ditimbulkan dari kebiasaan merokok. Tetapi anehnya sering kita melihat ustadz-ustadz yang tidak mengindahkan bahaya itu dan dengan bebas merokok di hadapan umum, dan di kalangan santri pun __terutama santri jawa__ fenomena merokok merupakan hal yang lumrah, hal inilah yang [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><b><a href="http://cintaallah.org/wp-content/uploads/2013/05/hukummerokok.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-1379" alt="hukum rokok,hukum merokok,merokok dalam islam,rokok dalam islam,hukum dalam merokok,hukum disaat merokok" src="http://cintaallah.org/wp-content/uploads/2013/05/hukummerokok.gif" width="413" height="330" /></a></b><b></b></p>
<p>Bahaya merokok sudah sering kita dengar, bahkan di setiap bungkus rokok tertera mengenai penyakit-penyakit yang bisa ditimbulkan dari kebiasaan merokok. Tetapi anehnya sering kita melihat ustadz-ustadz yang tidak mengindahkan bahaya itu dan dengan bebas merokok di hadapan umum, dan di kalangan santri pun <sup>__</sup>terutama santri jawa<sup>__</sup> fenomena merokok merupakan hal yang lumrah, hal inilah yang sering dijadikan <i>hujjah</i> oleh orang-orang <i>awam</i> untuk mengkonsumsi rokok tanpa ragu. Sebenarnya bagaimanakah hukum rokok dilihat dari segi pandang <i>syariat</i> ?<span id="more-1378"></span></p>
<p><b>Kami menjawab</b><b></b></p>
<p>Di kalangan ulama, hukum rokok telah menjadi hal yang kontroversial, sebab rokok memang merupakan hal baru yang tidak diketemukan di zaman Rasulr sehingga tidak ada <i>nash shorih</i>baik dari Al Quran maupun Hadits mengenai hukumnya. Secara ringkas khilaf ulama mengenai rokok adalah sebagai berikut<sup>(1)</sup>:</p>
<ol>
<li><b>1.        </b><b>Boleh/mubah</b>, karena tidak ada dalil yang dengan jelas mengharamkannya dan mereka <i>menganggap</i> rokok tidak berbahaya bagi kesehatan serta bukan termasuk <i>muskir </i>(perkara yang memabukkan) atau <i>mukhoddir </i>(merusak pikiran).</li>
<li><b>2.        </b><b>Makruh</b>, karena tidak ada dalil yang dengan jelas mengharamkannya, akan tetapi karena rokok menimbulkan bau yang tidak sedap baik dari asapnya maupun dari mulut mereka yang mengkonsumsinya, maka mereka menyamakanya dengan hukum mengkonsumsi bawang merah atau bawang putih mentah.</li>
<li><b>3.        </b><b>Wajib</b>, jika membahayakan jiwa ketika tidak merokok.</li>
<li><b>4.        </b><b>Sunnah, </b>jika dokter ahli yang dapat dipercaya merekomendasikannya sebagai obat bagi penyakitnya.</li>
<li><b>5.        </b><b>Haram</b>, dengan pertimbangan sebagai berikut :
<ol>
<li><b>a.    </b>Para dokter telah sepakat bahwa rokok dapat membahayakan kesehatan. Mereka yang mengkonsumsinya beresiko terjangkit penyakit kanker, jantung, impotensi,gangguankehamilandanjanin. Sedangkanajaran islam telah memerintahkan pemeluknya untuk  meninggalkan segala yang membahayakan, sebagaimana firman Allah Y:</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p dir="RTL">وَلَاتُلْقُوابِأَيْدِيكُمْإِلَىالتَّهْلُكَةِوَأَحْسِنُواإِنَّاللَّهَيُحِبُّالْمُحْسِنِينَ (195)</p>
<p><i>“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (al-baqarah :195)</i><i></i></p>
<p>Dan juga hadits Rasulullah saw:</p>
<p dir="RTL">&#8221; لَا ضَرَرَ وَلَا ضَرَارَ &#8220;.</p>
<p><i>“ Janganlah berbuat sesuatu yang membahayakan, dan jangan membalas dengan berbuat sesuatu yang membahayakan”</i> (HR IbnuMajah, 2340)</p>
<ol>
<li><b>b.   </b>Mengkonsumsi rokok juga bisa digolongkan sebagai tindakan <i>isrof</i> atau <i>tabdzir</i> (pemborosan) harta<sup>(2)</sup>.Karena membelajaan harta untuk sesuatu yang tidak bermanfaat bahkan berbahaya bagi kesehatan. Dan pemborosan termasuk hal yang diharamkan, sebagaimana firman Allah Y:</li>
</ol>
<p dir="RTL">وَآَتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ <b>وَلَا تُبَذِّرْ</b> تَبْذِيرًا (26) إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا (27)</p>
<p><i>“ Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan <b>janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu)</b> secara boros.Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”, (al-Isra’ : 26-27)</i></p>
<ol>
<li><b>c.    </b>Merokok dapat merubah mental dan watak pecandunya.</li>
</ol>
<p><b>Penguraian</b></p>
<p><b>Pendapat pertama<i>,</i></b>yang menyatakan bahwa merokok adalah mubah karena tidak membahayakan kesehatan. Para ahli medis telah menyanggah hal ini dan bersepakat  bahwa rokok sangat berbahaya bagi kesehatan baik dalam jangka pendekmaupunjangka panjang<sup>(3)</sup>. Sedangkan mengkonsumsi sesuatu yang membahayakan kesehatan adalah haram menurut kesepakatan ulama’.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Pendapat kedua<i>,</i></b>yang menyatakan bahwa merokok adalah makruh karena tidak ada dalil tegas yang mengharamkannya. Inipun tersanggah dengan alasan di atas, karena semua yang membahayakan, maka hukumnya berubah menjadi haram. Bahkan <i>wudhu’</i> yang wajib pun bisa menjadi haram jika orang yang berwudhu` memiliki penyakit yang berbahaya andai terkena air.</p>
<p><b>Pendapat ketiga<i>,</i></b> yang menyatakan bahwa merokok adalah wajib ketika membahayakan jiwa jika ditinggalkan. Ini bukanlah hukum <i>asal</i> (hukum yang berlaku dalam keadaan normal) akan tetapi hukum <i>aridhi</i> yang baru bisa berlaku ketika keadaan tersebut benar-benar terjadi, bukan dalam keadaan normal. Oleh karena itu, tidak bisa digunakan sebagai dalil kebolehan merokok, karena bahkan hukum memakan bangkai yang asalnya haram bisa menjadi wajib bagi mereka yang kelaparan dan tidak menemukan hal lain untuk mempertahankan hidupnya.</p>
<p><b>Pendapat keempat, </b>yang menyatakan kesunahan rokok jika dokter merekomendasikanya sebagai obat. Ini pun hukum <i>aridhi</i><i> </i>yang tidak bisa djadikan landasan dalam keadaan normal, lagipula pada kenyataanya para ahli medis telah sepakat mengenai bahaya merokok.</p>
<p><b>Pendapat terakhir<i>,</i></b>yang menyatakan keharaman rokok. Pendapat ini menurut kami yang paling tepat ditinjau dari segi dalil, Juga  lebih berhati-hati (<i>ihtiyath</i>). Pendapat ini juga sesuai dengan<i> ruh</i> islam yang menjadikan kesehatan sebagai nikmat yang teramat mahal yang perlu dijaga, serta melarang pemborosan (<i>isrof</i>) dan selalu menganjurkan untuk menyalurkan harta kepada hal-hal yang bermanfaat. Allah Yberfirman :</p>
<p dir="RTL">يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ (215)</p>
<p><i>“ Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: &#8220;Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.&#8221; Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (al-baqarah: 215).</i></p>
<p>Oleh karena itu, alangkah indah dan eloknya jika setiap muslim sadar untuk meninggalkan rokok. Terlebih bagi kalangan ustadz, ulama’ dan tokoh agama yang menjadi panutan bagi masyarakat awam. Karena merokok termasuk hal yang tidak berguna bahkan dapat merugikan diri, agama, dan harta. Rasulullah rbersabda :</p>
<p dir="RTL">مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ ، رواه الترمذي واحمد</p>
<p><i>“ termasuk kesempurnaan islam pada seseorang adalah meninggalkan segala yang tidak manfaat (dalam agama) baginya “ (H.R. Tirmidzidan Ahmad)</i></p>
<p>Namun sangatlah ironis, ketika orang-orang di luar islam mulai menyadari bahaya rokok dan berusaha untuk meninggalkanya, justru sebagian ulama muslim,  orang-orang yang menjadi <i>uswah</i>/tauladan bagi umat membelanya mati-matian.Ini adalah  contoh negatif yang mencoreng wajah islam. karena perbuatan mereka, banyak orang awam yang  dengan bebas merokok tanpa merasa bersalah dengan menjadikan perbuatan mereka sebagai <i>hujjah</i>, bahkan banyak anak-anak yang belum baligh yang terjerumus dan dengan bebasnya menghisap rokok. Siapakah yang akan bertanggung jawab di hadapan Allah nanti di hari kiamat ?.</p>
<p>Al Habib Abdullah bin Umar as-Syathirit berkata :</p>
<p dir="RTL" align="center"><b>تَسْتَحْسِنُ التُّنْــبَاكَ فِي فِيْكَ # وَتَسْتَحْيِي بِأَنْ تَسْتَعْمِلَ الْمِسْوَاكَا</b></p>
<p><i>Kamu menilai bagus rokok di mulutmu, namun kamu malu menggunakan siwak.</i></p>
<p dir="RTL" align="center"><b>وَالشَّرْعُ ثُمَّ الطِّبُّ قَدْ نَهَاكَ عَنْ # ذَاكَ الْأَذَى وَبِفِعْلِ ذَا اَمَــرَاكَا</b><b></b></p>
<p><i>Padahal</i><i>syari’at dan medis benar-benar telah </i><i>melarangmu</i><i> dari penyakit (rokok) itu, dan dengan menggunakan siwak keduanya (syari’at dan medis) menganjurkanmu.</i></p>
<p dir="RTL" align="center"><b>لَوْ كُنْتَ تَعْكِسُ فِي الْقَضِيَّةِ كَانَ اَوْ # لَى مِنْكَ لَكِنَّ اللَّعِيْنَ اَغْـوَاكَا</b><b></b></p>
<p><i>Jika kamu membalik kejadian di atas, maka lebih baik bagimu, namun yang terkutuk (syetan) telah</i><i>menyesatkanmu.</i></p>
<p dir="RTL" align="center"><b>فَلَكَمْ اَضَعْـتَ بِهِ نَفِيْسَ اْلمـَالِ لَوْ # اَنْفَقْتَهُ يَا صَاحِ فِي اُخْـَـراكَا</b><b></b></p>
<p><i>Berapa banyak engkau hamburkan harta yang bernilai, seandainya saja engkau sedekahkan wahai sahabatku untuk kebahagiaan akhiratmu.</i></p>
<p align="center"><b>Referensi</b></p>
<p dir="RTL"><b> (1) بغية المسترشدين</b></p>
<p dir="RTL">(مسألة: ك): قال: لم يرد في التنباك حديث عنه ولا أثر عن أحد من السلف، وكل ما يروى فيه من ذلك لا أصل له، بل مكذوب لحدوثه بعد الألف، واختلف العلماء فيه حلاً وحرمة، وألفت فيه التآليف، وأطال كل في الاستدلال لمدعاه، والخلاف فيه واقع بين متأخري الأئمة الأربعة، والذي يظهر أنه <span style="text-decoration: underline;">إن عرض له ما يحرمه بالنسبة لمن يضره في عقله أو بدنه فحرام</span>، كما يحرم العسل على المحرور والطين لمن يضره، <span style="text-decoration: underline;">وقد يعرض له ما يبيحه بل يصيره مسنوناً،</span> كما إذا استعمل للتداوي بقول ثقة أو تجربة نفسه بأنه دواء للعلة التي شرب لها، كالتداوي بالنجاسة غير صرف الخمر، وحيث خلا عن تلك العوارض فهو مكروه، إذ الخلاف القوي في الحرمة يفيد <span style="text-decoration: underline;">الكراهة.</span></p>
<p dir="RTL"><b> الموسوعة الطبية الفقهية ص 183- 184</b></p>
<p dir="RTL">أحكام تدخين التبغ :</p>
<p dir="RTL">مشروعية التدخين : لقد ذهب الفقهاء في حكم تدخين التبغ مذاهب شتى لأنه لا نص فيه, وذلك على النحو الأتي :<span style="text-decoration: underline;">تحريم التدخين</span> : ذهب بعضهم إلى تحريمه لأنه يسكر في ابتداء تعاطيه إسكارا سريعا, ثم لايزال في كل مرة ينقص شيئا فشيئا حتى يطول الأمد جدا فيصير لايحس به, لكنه يجد نشوة وطربا أحسن عنده من السكر, وأنه يترتب على شربه الإضرار بالبدن, وأن الأطباء أجمعوا على ضرره وثبت عندهم أنه يسبب الكثير من الأمراض مثل سرطانات الرئة والحنجرة واللسان والشفتين والمثانة, كما يسبب الضعف الجنسي, وفيه إضاعة للمال وتبذير منهي عنه .. وقد نص المالكية على تحريمه وكذلك فعل المؤتمر العالمي الإسلامي لمكافحة المسكرات والمخدرات, الذي عقد في الجامعة الإسلامية بالمدينة المنورة في 30/ 5/ 1402 هـ حيث أصدر فتوى بحرمة استعمال التبغ للأضرار التي ذكرناها.<span style="text-decoration: underline;">إباحة التدخين</span> : وذهب بعضهم إلى إباحته لأنه لم يثبت إسكاره ولاتخديره, مع أن الذي يشربه في البداية يصيبه شيئ من الغشي لكنه لايوجب التحريم, لأن الأصل في الأشياء الإباحة حتى يرد نص بالتحريم فيكون التبغ مباحا جريا على قواعد الشرع وعمومياته.<span style="text-decoration: underline;">كراهة التدخين</span> : وذهب أكثرهم إلى كراهته لعدم ثبوت أدلة التحريم, وكرهوه لكراهة رائحته قياسا على البصل النيئوالثوم ونحوه.أما من الوجهة الطبية فإننا نميل إلى <span style="text-decoration: underline;">كراهته كراهة تحريم</span> لما ثبت من أضراره الشديدة على صحة الفرد والمجتمع, وجريا على قاعدة : لا ضرر ولاضرار, ولأنه لم يثبت أن له أية فوائد صحية, وأما ما يدعيه المدخنون من فوائد نفسية للتدخين وأنه يريح الأعصاب ويبهج النفس وغير ذلك من الدعاوى الباطلة فلا تعدو أن تكون أوهاما وتزيينا من الشيطان الذي لايكف عن الكيد لبني أدم ليرديهم ويوقعهم في الإثم والضرر!.</p>
<p dir="RTL"><b>حاشية البجيرمي على الخطيب &#8211; (ج 6 / ص 440)</b><b></b></p>
<p dir="RTL">قَوْلُهُ : ( وُصُولُ دُهْنٍ ) وَمِنْهُ دُخَانٌ لَا عَيْنَ فِيهِ كَالْبَخُورِ ، بِخِلَافِ مَا فِيهِ عَيْنٌ كَالدُّخَانِ الْمَشْهُورِ الْآنَ ق ل . وَعِبَارَةُ عَبْدِ الْبَرِّ : وَمِنْهُ يُؤْخَذُ أَنَّ وُصُولَ الدُّخَانِ الَّذِي فِيهِ رَائِحَةُ الْبَخُورِ أَوْ غَيْرِهِ إلَى جَوْفِهِ لَا يَضُرُّ وَإِنْ تَعَمَّدَ فَتْحَ فِيهِ لِذَلِكَ ؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ عَيْنًا ، أَيْ فِي الْعُرْفِ <span style="text-decoration: underline;">، وَأَمَّا الدُّخَانُ الْحَادِثُ الْآنَ الْمُسَمَّى بِالنَّتِنِ لَعَنَ اللَّهُ مِنْ أَحْدَثَهُ فَإِنَّهُ مِنْ الْبِدَعِ الْقَبِيحَةِ ، فَقَدْ أَفْتَى شَيْخُنَا الزِّيَادِيُّ أَوَّلًا بِأَنَّهُ لَا يُفْطِرُ لِأَنَّهُ إذْ ذَاكَ لَمْ يَكُنْ يَعْرِفُ حَقِيقَتَهُ ، فَلَمَّا رَأَى أَثَرَهُ بِالْبُوصَةِ الَّتِي يَشْرَبُ بِهَا رَجَعَ وَأَفْتَى بِأَنَّهُ يُفْطِرُ</span> .<b>حاشية البجيرمي على الخطيب &#8211; (ج 13 / ص 200)</b></p>
<p dir="RTL">( وَيَحْرُمُ مَا يَضُرُّ الْبَدَنَ أَوْ الْعَقْلَ ) <span style="text-decoration: underline;">وَمِنْهُ يُعْلَمُ حُرْمَةُ الدُّخَانِ الْمَشْهُورِ لِمَا نُقِلَ عَنْ الثِّقَاتِ أَنَّهُ يُورِثُ الْعَمَى وَالتَّرَهُّلَ وَالتَّنَافِيسَ وَاتِّسَاعَ الْمَجَارِي </span>. ا هـ . ق ل وَقَوْلُهُ : مَا يَضُرُّ الْبَدَنُ قَالَ الْأَذْرَعِيُّ : الْمُرَادُ الضَّرَرُ الْبَيِّنُ الَّذِي لَا يُحْتَمَلُ عَادَةً لَا مُطْلَقُ الضَّرَرِ شَوْبَرِيٌّ .</p>
<p dir="RTL"><b>تحفة الأحوذي &#8211; (ج 4 / ص 416)</b></p>
<p dir="RTL">تَنْبِيهٌ : <span style="text-decoration: underline;">اِعْلَمْ أَنَّ بَعْضَ أَهْلِ الْعِلْمِ قَدْ اِسْتَدَلَّ عَلَى إِبَاحَةِ أَكْلِ التُّنْبَاكِ وَشُرْبِ دُخَانِهِ</span> بِقَوْلِهِ تَعَالَى { وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا } وَبِالْأَحَادِيثِ الَّتِي تَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْأَصْلَ فِي الْأَشْيَاءِ الْإِبَاحَةُ . قَالَ الْقَاضِي الشَّوْكَانِيُّ فِي إِرْشَادِ السَّائِلِ إِلَى أَدِلَّةِ الْمَسَائِلِ بَعْدَمَا أَثْبَتَ أَنَّ كُلَّ مَا فِي الْأَرْضِ حَلَالٌ إِلَّا بِدَلِيلٍ مَا لَفْظُهُ : إِذَا تَقَرَّرَ هَذَا عَلِمْت أَنَّ هَذِهِ الشَّجَرَةَ الَّتِي سَمَّاهَا بَعْضُ النَّاسِ التُّنْبَاكَ وَبَعْضُهُمْ التوتون لَمْ يَأْتِ فِيهَا دَلِيلٌ يَدُلُّ عَلَى تَحْرِيمِهَا وَلَيْسَتْ مِنْ جِنْسِ الْمُسْكِرَاتِ وَلَا مِنْ السُّمُومِ وَلَا مِنْ جِنْسِ مَا يَضُرُّ آجِلًا أَوْ عَاجِلًا ، فَمَنْ زَعَمَ أَنَّهَا حَرَامٌ فَعَلَيْهِ الدَّلِيلُ وَلَا يُفِيدُ مُجَرَّدُ الْقَالِ وَالْقِيلِ اِنْتَهَى .قُلْتُ : لَا شَكَّ فِي أَنَّ الْأَصْلَ فِي الْأَشْيَاءِ الْإِبَاحَةُ لَكِنْ بِشَرْطِ عَدَمِ الْإِضْرَارِ ، وَأَمَّا مَا إِذَا كَانَتْ مُضِرَّةً فِي الْآجِلِ أَوْ الْعَاجِلِ فَكَلَّا ثُمَّ كَلَّا . وَقَدْ أَشَارَ إِلَى ذَلِكَ الشَّوْكَانِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ بِقَوْلِهِ : وَلَا مِنْ جِنْسِ مَا يَضُرُّ آجِلًا أَوْ عَاجِلًا ، <span style="text-decoration: underline;">وَأَكْلُ التُّنْبَاكَ وَشُرْبُ دُخَانِهِ بِلَا مِرْيَةٍ وَإِضْرَارُهُ عَاجِلًا ظَاهِرٌ غَيْرُ خَفِيٍّ</span> ، وَإِنْ كَانَ لِأَحَدٍ فِيهِ شَكٌّ فَلْيَأْكُلْ مِنْهُ وَزْنَ رُبْعِ دِرْهَمٍ أَوْ سُدُسِهِ ثُمَّ لِيَنْظُرْ كَيْفَ يَدُورُ رَأْسُهُ وَتَخْتَلُّ حَوَاسُّهُ وَتَتَقَلَّبُ نَفْسُهُ حَيْثُ لَا يَقْدِرُ أَنْ يَفْعَلَ شَيْئًا مِنْ أُمُورِ الدُّنْيَا أَوْ الدِّينِ ، بَلْ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَقُومَ أَوْ يَمْشِيَ ، وَمَا هَذَا شَأْنُهُ فَهُوَ مُضِرٌّ بِلَا شَكٍّ . فَقَوْلُ الشَّوْكَانِيِّ : وَلَا مِنْ جِنْسِ مَا يَضُرُّ آجِلًا أَمْ عَاجِلًا لَيْسَ بِصَحِيحٍ . <span style="text-decoration: underline;">وَإِذَا عَرَفْت هَذَا ظَهَرَ لَك أَنَّ إِضْرَارَهُ عَاجِلًا هُوَ الدَّلِيلُ عَلَى عَدَمِ إِبَاحَةِ أَكْلِهِ</span> وَشُرْبِ دُخَانِهِ . هَذَا مَا عِنْدِي وَاَللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ .</p>
<p dir="RTL"><b>بغية المسترشدين</b><b></b></p>
<p dir="RTL">(مسألة) : التنباك معروف من أقبح الحلال إذ فيه إذهاب الحال والمال، ولا يختار استعماله أكلاً أو سعوطاً أو شرباً لدخانه ذو مروءة من الرجال، <span style="text-decoration: underline;">وقد أفتى بتحريمه أئمة من أهل الكمال</span> كالقطب سيدنا عبد الله الحداد والعلامة أحمد الهدوان، كما ذكره القطب أحمد بن عمر بن سميط عنهما وغيرهم من أمثالهم، بل أطال في الزجر عنه الحبيب الإمام الحسين ابن الشيخ أبي بكر بن سالم وقال: أخشى على من لم يتب عنه قبل موته أن يموت على سوء الخاتمة والعياذ بالله تعالى. وقد أشبع الفصل فيه بالنقل العلامة عبد الله باسودان في فيض الأسرار وشرح الخطبة وذكر من ألف في تحريمه كالقليوبي وابن علان وأورد فيه حديثاً، وقال الحساوي في تثبيت الفؤاد من كلام القطب الحداد أقول: ورأيت معزواً لتفسير المقنع الكبير قال النبي : «يا أبا هريرة يأتي أقوام في آخر الزمان يداومون هذا الدخان وهم يقولون نحن من أمة محمد وليسوا من أمتي ولا أقول لهم أمة لكنهم من السوام» قال أبو هريرة: وسألته : كيف نبت؟ قال: «إنه نبت من بول إبليس، فهل يستوي الإيمان في قلب من يشرب بول الشيطان؟ ولعن من غرسها ونقلها وباعها» . قال عليه الصلاة والسلام: «يدخلهم الله النار وإنها شجرة خبيثة» اهـ ملخصاً اهـ. ورأيت بخط العلامة أحمد بن حسن الحداد على تثبيت الفؤاد: سمعت بعض المحبين قال: إن والدي يشرب النتن خفية وكان متعلقاً ببعض أكابر آل أبي علوي، فلما مات رأيته فسألته: ما فعل الله بك؟ قال: شفع فيَّ فلان المتقدم إلا في التنباك فهو يؤذيني وأراني في قبره ثقباً يجيء منه الدخان يؤذيه وقال له: إن شفاعة الأولياء ممنوعة في شرب التنباك. وقال لي بعضهم: رأيت والدي وكان صالحاً لكنه كان ينشق التنباك، فرأيته بعد موته قال: إن الناشق للتنباك عليه نصف إثم الشارب فالحذر منه اهـ. وقال الولي المكاشف للشريف عبد العزيز الدباغ: أجمع أهل الديوان من الأولياء على حرمة هذا النتن الخ. فائدة : قال السيوطي في الأشباه والنظائر: قال بعضهم مراتب الأكل خمس: ضرورة، وحاجة، ومنفعة، وزينة، وفضول. فالضرورة بلوغه إلى حدّ إذا لم يتناول الممنوع هلك أو قارب وهذا يبيح تناول الحرام. والحاجة كالجائع الذي لو لم يجد ما يأكله لم يهلك غير أنه يكون في جهد ومشقة وهذا لا يبيح الحرام. والزينة والمنفعة كالمشتهي الحلوى والسكر والثوب المنسوج بالحرير والكتان. والفضول كالتوسع بأكل الحرام والشبهات.</p>
<p dir="RTL"><b>البيجوري / 1 / 343</b></p>
<p dir="RTL"><span style="text-decoration: underline;">(قوله : ولا بيع ما لا منفعة فيه) قيل منه الدخان المعروف لأنه لا منفعة فيه بل يحرم استعماله لأن فيه ضررا كبيرا وهذا ضعيف وكذا القول بأنه مباح، والمعتمد انه مكروه بل قد تعتريه الوجوب كما اذا يعلم الضرر بتركه</span> وحينئذ فبيعه صحيح، وقد تعتريه الحرمة كما اذا كان يشتريه بما يحتاجه لنفقة عياله او تيقن ضرره اهـ</p>
<p dir="RTL"><b>قرة العين بفتاوى اسماعيل زين / 225</b></p>
<p dir="RTL"><b>سؤال : </b>ما حكم شرب الدخان في المسجد بغير تلويث له كأن كان هناك طفايات معدة لذلك ؟</p>
<p dir="RTL"><b>الجواب والله الموفق للصواب :</b> ان شرب الدخان من حيث <span style="text-decoration: underline;">هو مكروه عند الشافعية </span>وبعض العلماء <span style="text-decoration: underline;">وعند بعضهم حرام</span> لكونه من الأشياء ذوات الروائح الخبيثة بالإضافة الى ما فيه من تلويث الفم والصدر وصرف بعض الأموال. <span style="text-decoration: underline;">اما اذا كان في المسجد كما ذكر في السؤال او في غيره من مجالس العلم فهو حرام</span> لما فيه من من انتهاك حرمة المكان لأن الله تعالى يقول &#8221; فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ &#8221; اي اوجب الله وامر ان تعظم وتحترم، وشرب الدخان فيها ينافي الإحترام والتعظيم ويخشى على فاعلخ سوء الخاتمة لهذا اذا لم يكن هناك قصد للإنتهاك والا فان قصد شارب الدخان في المسجد المعاندة والإنتهاك فلا شك انه يرتد والعياذ بالله والمساجد من شعائر الله التي يجب تعظيمها.</p>
<p dir="RTL"><b>(2)مغني المحتاج إلى معرفة ألفاظ المنهاج  &#8211; (ج 8 / ص 39)</b><b></b></p>
<p dir="RTL">( و الْأَصَحُّ أَنَّ صَرْفَهُ ) أَيْ الْمَالَ وَإِنْ كَثُرَ ( فِي الصَّدَقَةِ ، وَ ) بَاقِي ( وُجُوهِ الْخَيْرِ ) كَالْعِتْقِ ( وَالْمَطَاعِمِ وَالْمَلَابِسِ الَّتِي لَا تَلِيقُ بِحَالِهِ لَيْسَ بِتَبْذِيرٍ ) أَمَّا فِي الْأُولَى فَلِأَنَّ لَهُ فِي الصَّرْفِ فِي الْخَيْرِ غَرَضًا وَهُوَ الثَّوَابُ ، فَإِنَّهُ لَا سَرَفَ فِي الْخَيْرِ كَمَا لَا خَيْرَ فِي السَّرَفِ ، <span style="text-decoration: underline;">وَحَقِيقَةُ السَّرَفِ : مَا لَا يُكْسِبُ حَمْدًا فِي الْعَاجِلِ وَلَا أَجْرًا فِي الْآجِلِ</span> ، وَمُقَابِلُ الْأَصَحِّ فِيهَا يَكُونُ مُبَذِّرًا إنْ بَلَغَ مُفَرِّطًا فِي الْإِنْفَاقِ</p>
<p dir="RTL"><b>بغية المسترشدين</b></p>
<p dir="RTL">(مسألة: ب): يحرم بيع التنباك ممن يشربه أو يسقيه غيره، ويصح لأنه مال كبيع السيف، ونحو الرصاص والبارود من قاطع الطريق، والأمرد لمن عرف بالفجور، والعنب ممن يتخذه خمراً ولو ظناً، فينبغي لكل متدين أن يجتنب الاتجار في ذلك، ويكره ثمنه كراهة شديدة. أما بيع آلة الحرب من الحربي فباطل، ويجوز خلط الطعام الرديء بالطعام الجيد إن كان ظاهراً يعلمه المشتري، وليس ذلك من الغشّ المحرم، وإن كان الأولى اجتنابه، إذ ضابط الغشّ أن يعلم ذو السلعة فيها شيئاً لو اطلع عليه مريدها لم يأخذها بذلك المقابل فيجب إعلامه حينئذ.</p>
<p dir="RTL"><b>(3)مع الناس / 2/ 39 للشيخ محمد سعيد رمضان البوطي</b><b></b></p>
<p dir="RTL">ما حكم بيع الدخان ؟ حكم التبغ من حيث تعاطيه والتعامل المالي به يتبع قرار الأطباء في اثره على جسم الإنسان <span style="text-decoration: underline;">ومن المعلوم ان اطباء العالم متفقون على انه يسبب اضرارا متنوعة في جسم الشخص الذي يتعاطاه اذن فالشرع يقرر وجوب تجنبه وحرمة استعماله</span>، وكل ما حرم بيعه وشراؤه والقاعدة الشرعية في ذلك وهي حديث رسول الله r &#8221; لا ضرر ولا ضرار &#8220;.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cintaallah.org/hukum-merokok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indahnya Prasangka Baik</title>
		<link>http://cintaallah.org/indahnya-prasangka-baik/</link>
		<comments>http://cintaallah.org/indahnya-prasangka-baik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 May 2013 13:01:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hamba Allah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[indahnya prasangka baik]]></category>
		<category><![CDATA[islam berprasangka baik]]></category>
		<category><![CDATA[muslim berprasangka baik]]></category>
		<category><![CDATA[prasangka baik]]></category>
		<category><![CDATA[prasangka baik dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[prasangka baik kepada hamba]]></category>
		<category><![CDATA[prasangka baik muslim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cintaallah.org/?p=1374</guid>
		<description><![CDATA[Duhai&#8230; alangkah indahnya husnuzhzhon (prasangka baik). Dengan prasangka baik kita bisa menangkap asrôr (rahasia-rahasia) makhluk tanpa mereka sadari. Namun kini ikatan (rowâbith) telah lepas, dan kita hanya memandang basyariah (sisi lahiriah) saja. Jika seseorang melihat orang lain melakukan maksiat, ia lalu berprasangka buruk kepadanya. Serahkanlah urusan makhluk kepada Kholiq (Allah), jika mau Dia akan menyiksanya; [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://cintaallah.org/wp-content/uploads/2013/05/prasangkabaikk.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1375" alt="berprasangka baik,indahnya prasangka baik,prasangka baik seorang muslim,muslim prasangka baik" src="http://cintaallah.org/wp-content/uploads/2013/05/prasangkabaikk-300x272.jpg" width="300" height="272" /></a></p>
<p><b>Duhai&#8230;</b> alangkah indahnya husnuzhzhon (prasangka baik). Dengan prasangka baik kita bisa menangkap asrôr (rahasia-rahasia) makhluk tanpa mereka sadari. Namun kini ikatan (rowâbith) telah lepas, dan kita hanya memandang basyariah (sisi lahiriah) saja. Jika seseorang melihat orang lain melakukan maksiat, ia lalu berprasangka buruk kepadanya. Serahkanlah urusan makhluk kepada Kholiq (Allah), jika mau Dia akan menyiksanya; jika mau Dia akan mengampuninya.<span id="more-1374"></span><br />
<span style="color: #008000;">“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain syirik, bagi siapa pun yang Dia kehendaki.”(QS An-Nisa, 4:48)</span></p>
<p>Bisa jadi dia termasuk orang yang diampuni Allah sesuai kehendak-Nya.</p>
<p>Syeikh Ibn Arabi berkata, “Andaikata aku melihat seseorang bermaksiat kepada Allah, kemudian dia menghilang sejenak dari pandanganku, aku akan meyakini bahwa ia seorang wali Allah. Sebab, mungkin ia telah bertobat, dan<br />
Allah kemudian menerima tobatnya dan memilihnya.”Tidak ada seorang pun dapat mencegah Allah membuka pintu pengampunan. Allah selalu membuka pintu pengampunan lebar-lebar untuk manusia. Seseorang boleh jadi kafir, tapi sesaat kemudian telah jadi wali. Berprasangka baiklah kepada manusia. Jika kau ingin meneliti, maka telitilah dirimu sendiri. Curigailah dirimu sendiri, meskipun ia sedang berbuat ketaatan. <i>Waspadailah tipu muslihat yang ditimbulkan rasa lapar dan kenyang Boleh jadi perut yang lapar lebih buruk dari yang kenyang.</i></p>
<p>Pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.Ya Allah, tunjukkanlah aku kepada sebaik-baik akhlak, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat menunjukkkan kepada sebaik-baik akhlak selain Engkau. Dan singkirkan dariku akhlak yang tercela, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat menyingkirkannya dariku selain Engkau.Dikatakan bahwa tasawuf adalah akhlak. Barang siapa mengunggulimu dalam akhlak, maka ia telah mengunggulimu dalam tasawuf.</p>
<p>Ibrahim bin Adham<br />
berkata, “Aku tidak pernah merasakan kebahagiaan sepanjang hidupku seperti dalam dua kejadian ini:Pertama, sewaktu aku menumpang perahu dan seluruh penumpang menjadikanku sebagai bahan olok-olok mereka. Dalam pandangan mereka aku sangat hina.Aku lalu mengucapkan Alhamdulillâh.Kedua, ketika aku sedang berbaring, tiba-tiba datang seekor anjing mengencingiku.”Kita diterpa kemerosotan akhlak, dan penyebabnya adalah nafs yang sangat kuat. Semoga Allah mensucikan nafs kita. Sungguh beruntung orang yang mensucikan (jiwa)-nya dan sungguh merugi orangyang mengotorinya.(QS Asy-Samsy, 91:9-10)</p>
<p>Para ulama tidak menuliskan contoh-contoh akhlak mulia, kecuali untuk diamalkan. Perangilah nafs-mu sekuat tenaga agar dapat berperilaku denganakhlak As-Sayidul Ma’shûm (Nabi saw). Kita butuh obat, karena penyakit telah terlalu banyak.Wahai Penyembuh, sembuhkanlah. Wahai Yang memperbaiki, perbaikilah. (L:315)<i>(Sekilas tentang Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, Putera Riyad</i></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cintaallah.org/indahnya-prasangka-baik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Al-Imam Ali Khali’ Qasam</title>
		<link>http://cintaallah.org/al-imam-ali-khali-qasam/</link>
		<comments>http://cintaallah.org/al-imam-ali-khali-qasam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 May 2013 01:20:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hamba Allah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Wali Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Profil Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[biografi Al-Imam Ali Khali’ Qasam]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[karomah Al-Imam Ali Khali’ Qasam]]></category>
		<category><![CDATA[kemuliaan Al-Imam Ali Khali’ Qasam]]></category>
		<category><![CDATA[kisah Al-Imam Ali Khali’ Qasam]]></category>
		<category><![CDATA[tentang Al-Imam Ali Khali’ Qasam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cintaallah.org/?p=1369</guid>
		<description><![CDATA[[Al-Imam Ali Khali’ Qasam - Alwi - Muhammad - Alwi - Ubaidillah - Ahmad Al-Muhajir - Isa Ar-Rumi - Muhammad An-Naqib - Ali Al-’Uraidhi - Ja’far Ash-Shodiq - Muhammad Al-Baqir - Ali Zainal Abidin - Husain - Fatimah Az-Zahro - Muhammad SAW] Beliau adalah Al-Imam Ali bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p dir="LTR" style="text-align: center;"><a href="http://cintaallah.org/wp-content/uploads/2013/05/kotatarim.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-1370" alt="biografi ulama,ulama kota tarim,ulama di kota tarim,ulama hebat" src="http://cintaallah.org/wp-content/uploads/2013/05/kotatarim-300x225.jpg" width="500" height="325" /></a></p>
<p dir="LTR">[Al-Imam Ali Khali’ Qasam - Alwi - Muhammad - Alwi - Ubaidillah - Ahmad Al-Muhajir - Isa Ar-Rumi - Muhammad An-Naqib - Ali Al-’Uraidhi - Ja’far Ash-Shodiq - Muhammad Al-Baqir - Ali Zainal Abidin - Husain - Fatimah Az-Zahro - Muhammad SAW]</p>
<p dir="LTR">Beliau adalah Al-Imam Ali bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-’Uraidhi bin Ja’far Ash-Shodiq, dan terus bersambung nasabnya hingga Rasulullah SAW.</p>
<p dir="LTR">Beliau terkenal dengan julukan Khali’ Qasam (pelepas/pemberi Qasam). Julukan tersebut diberikan kepada beliau dikarenakan beliau membeli suatu tanah dengan harga 20.000 Dinar. Tanah itu kemudian beliau namakan dengan Qasam, sesuai dengan nama tanah keluarganya di kota Bashrah. Di tanah itu beliau menanam pohon kurma. Disana beliau juga membangun suatu rumah yang ditempati pada saat panen kurma. Kemudian beberapa orang membangun rumah-rumah disamping rumah beliau. Sampai akhirnya tempat itu menjadi suatu desa dan dinamakan dengan desa Qasam.</p>
<p dir="LTR">Beliau dilahirkan di Bait Jubair (di Hadramaut), suatu daerah yang penuh berkah dan kebaikan. Beliau dibesarkan di daerah itu. Beliau mengambil ilmu dari ayahnya. Beliau sering mondar-mandir bepergian ke kota Tarim. Akhirnya beliau, diikuti oleh saudara-saudara dan anak pamannya, memutuskan untuk tinggal di kota Tarim.</p>
<p dir="LTR">Beliau adalah seorang imam agung, guru besar, dan terkenal dengan keluasan ilmunya. Terkumpul di dalam diri beliau keutamaan dan kebaikan, anwar dan asrar. Beliau dikaruniai oleh Allah dengan maqam yang sangat tinggi, sehingga tampak dalam diri beliau karomah-karomah yang luar biasa. Beliau adalah seorang alim yang tiada duanya di jamannya dan tempat rujukan bagi manusia di saat itu. Jarang sekali pada suatu jaman terdapat orang yang mempunyai maqam setinggi beliau.</p>
<p dir="LTR">Para ulama besar dan ahli sejarah banyak menyebutkan manaqib dan ketinggian maqam beliau di buku-buku mereka. Termasuk di antaranya adalah Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad menyebutnya dalam suatu syairnya,</p>
<p dir="LTR">Rasulullah saw membalas salamnya, “(Salam bagimu) Ya Syeikh”<br />
sebagai jawaban atas salamnya (kepada Rasulullah),<br />
maka dibuat kagumlah para orang-orang mulia.</p>
<p dir="LTR">Syair tersebut menggambarkan suatu karomah besar yang ada pada diri beliau, Al-Imam Ali Khali’ Qasam. Hal ini terjadi setelah beliau tinggal di kota Tarim. Beliau jika menjalankan shalat dan sampai pada waktu tahiyat dan membaca salam kepada Nabi SAW, “As-salaamu ‘alaika ayyuhan Nabiyu wa rohmatullohi wa barakaatuh,” beliau mengulang-ulangi bacaan tersebut, sampai beliau mendengar langsung jawaban dari Rasulullah SAW, “As-salaamu ‘alaika ya Syeikh (salam sejahtera bagimu wahai Syeikh).” Demikianlah yang terjadi sebagaimana diceritakan oleh beberapa ulama seperti Al-Jundi, Asy-Syaraji, Ibnu Hisan, dan lain-lain. Al-Allamah Asy-Syeikh Al-Khatib juga menyebutkannya di dalam kitabnya Al-Jauhar Asy-Syafaaf.</p>
<p dir="LTR">Kekhususan ini, yakni dapat mendengar jawaban salam dari Rasulullah SAW, merupakan suatu maqam yang tinggi. Tidak bisa mendapatkan maqam setinggi itu, kecuali hanya segelintir auliya. Maqam itu tidak bisa didapatkan kecuali oleh orang yang sangat-sangat dekat dengan Allah. Asy-Syeikh Abdul Wahab Asy-Sya’rawi berkata dalam hal ini, “Tidak akan sampai seseorang kepada maqam berinteraksi langsung dengan Rasulullah SAW dan mendengar jawaban salam dari beliau SAW, kecuali ia telah melampaui 247.999 maqam para Auliya.”</p>
<p dir="LTR">Asy-Syeikh Abu Al-Abbas Al-Mursi bertanya kepada teman-temannya, “Adakah diantara kalian yang ketika menyampaikan salam kepada Rasul SAW di dalam shalat, terus dapat mendengar jawaban salam dari beliau SAW?.” Mereka berkata, “Tidak ada.” Selanjutnya beliau berkata, “Menangislah kalian, karena kalbu-kalbu kalian tertutup dari Allah dan Rasul-Nya.”</p>
<p dir="LTR">Beliau, Al-Imam Ali Khali’ Qasam, tidak hanya mendapat jawaban salam dari Rasul SAW di dalam shalatnya saja, tetapi di dalam semua kesempatan yang beliau memberikan salam kepada Rasul SAW. Beliau, meskipun mempunyai maqam yang demikian tinggi, adalah seorang yang sangat tawadhu. Beliau mempunyai akhlak yang mulia. Disamping itu, beliau adalah seorang yang pemurah.</p>
<p dir="LTR">Beliau meninggal berkisar pada tahun 523-529 H. Di dalam riwayat lain dikatakan beliau meninggal pada tahun 529 H1. Jasad beliau disemayamkan di pekuburan Zanbal, Tarim.</p>
<p dir="LTR">Radhiyallohu anhu wa ardhah…</p>
<p dir="LTR">[Disarikan dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba’alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba’alawy]</p>
<p dir="RTL">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cintaallah.org/al-imam-ali-khali-qasam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Al-Imam Ahmad Al-Muhajir</title>
		<link>http://cintaallah.org/al-imam-ahmad-al-muhajir/</link>
		<comments>http://cintaallah.org/al-imam-ahmad-al-muhajir/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 May 2013 05:10:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hamba Allah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Wali Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Profil Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[biografi imam ahmad]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[kisah imam ahmad almuhajir]]></category>
		<category><![CDATA[manaqib imam ahmad almuhajir]]></category>
		<category><![CDATA[profile imama ahmad al muhajir]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah imam ahmad al muhajir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cintaallah.org/?p=1364</guid>
		<description><![CDATA[[Al-Imam Ahmad Al-Muhajir - Isa Ar-Rumi - Muhammad An-Naqib - Ali Al-’Uraidhi - Ja’far Ash-Shodiq - Muhammad Al-Baqir - Ali Zainal Abidin - Husain - Fatimah Az-Zahro - Muhammad SAW] Beliau adalah Al-Imam Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-’Uraidhi bin Ja’far Ash-Shodiq, dan terus bersambung nasabnya hingga Rasulullah SAW. Beliau adalah seorang yang [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1365" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://cintaallah.org/wp-content/uploads/2013/05/seiwunn.jpg"><img class=" wp-image-1365" alt="seiwunn" src="http://cintaallah.org/wp-content/uploads/2013/05/seiwunn-300x225.jpg" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Kota Seiwun Yaman</p></div>
<p>[Al-Imam Ahmad Al-Muhajir - Isa Ar-Rumi - Muhammad An-Naqib - Ali Al-’Uraidhi - Ja’far Ash-Shodiq - Muhammad Al-Baqir - Ali Zainal Abidin - Husain - Fatimah Az-Zahro - Muhammad SAW]</p>
<p>Beliau adalah Al-Imam Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-’Uraidhi bin Ja’far Ash-Shodiq, dan terus bersambung nasabnya hingga Rasulullah SAW. Beliau adalah seorang yang tinggi di dalam keutamaan, kebaikan, kemuliaan, akhlak dan budi pekertinya. Beliau juga seorang yang sangat dermawan dan pemurah.</p>
<p>Beliau berasal dari negara Irak, tepatnya di kota Basrah. Ketika beliau mencapai kesempurnaan di dalam ketaatan dan ibadah kepada Allah, bersinarlah mata batinnya dan memancarlah cahaya kewaliannya, sehingga tersingkaplah padanya hakekat kehidupan dunia dan akherat, mana hal-hal yang bersifat baik dan buruk.</p>
<p>Beliau di Irak adalah seorang yang mempunyai kedudukan yang tinggi dan kehidupan yang makmur. Akan tetapi ketika beliau mulai melihat tanda-tanda menyebarnya racun hawa nafsu disana, beliau lebih mementingkan keselamatan agamanya dan kelezatan untuk tetap beribadah menghadap Allah SWT. Beliau mulai menjauhi itu semua dan membulatkan tekadnya untuk berhijrah, dengan niat mengikuti perintah Allah, “Bersegeralah kalian lari kepada Allah…”</p>
<p>Adapun sebab-sebab kenapa beliau memutuskan untuk berhijrah dan menyelamatkan agamanya dan keluarganya, dikarenakan tersebarnya para ahlul bid’ah dan munculnya gangguan kepada para Alawiyyin, serta begitu sengitnya intimidasi yang datang kepada mereka. Pada saat itu muncul sekumpulan manusia-manusia bengis yang suka membunuh dan menganiaya. Mereka menguasai kota Basrah dan daerah-daerah sekitarnya. Mereka membunuh dengan sadis para kaum muslimin. Mereka juga mencela kaum perempuan muslimin dan menghargainya dengan harga 2 dirham. Mereka pernah membunuh sekitar 300.000 jiwa dalam waktu satu hari. Ash-Shuly menceritakan tentang hal ini bahwa jumlah total kaum muslimin yang terbunuh pada saat itu adalah sebanyak 1.500.000 jiwa.</p>
<p>Pemimpin besar mereka adalah seorang yang pandir dengan mengaku bahwa dirinya adalah Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Ali bin Isa bin Zainal Abidin, padahal nasab itu tidak ada. Ia suka mencaci Ustman, Ali, Thalhah, Zubair, Aisyah dan Muawiyah. Ini termasuk salah satu golongan dalam Khawarij.</p>
<p>Karena sebab-sebab itu, Al-Imam Ahmad memutuskan untuk berhijrah. Kemudian pada tahun 317 H, berhijrahlah beliau bersama keluarga dan kerabatnya dari Basrah menuju ke Madinah. Termasuk di dalam rombongan tersebut adalah putra beliau yang bernama Ubaidillah dan anak-anaknya, yaitu Alwi (kakek keluarga Ba’alawy), Bashri (kakek keluarga Bashri), dan Jadid (kakek keluarga Jadid). Mereka semua adalah orang-orang sunni, ulama yang mengamalkan ilmunya, orang-orang sufi dan sholeh. Termasuk juga yang ikut dalam rombongan beliau adalah para budak dan pembantu beliau, serta termasuk didalamnya adalah kakek dari keluarga Al-Ahdal. Dan juga ikut diantaranya adalah kakek keluarga Bani Qadim (Bani Ahdal dan Qadim adalah termasuk keturunan dari paman-paman beliau).</p>
<p>Pada tahun ke-2 hijrahnya beliau, beliau menunaikan ibadah haji beserta orang-orang yang ikut hijrah bersamanya. Kemudian setelah itu, beliau melanjutkan perjalanan hijrahnya menuju ke Hadramaut. Masuklah beliau ke daerah Hajrain dan menetap disana untuk beberapa lama. Setelah itu beliau melanjutkan ke desa Jusyair. Tak lama disana, beliau lalu melanjutkan kembali perjalanannya dan akhirnya sampailah di daerah Husaisah (nama desa yang berlembah dekat Tarim). Akhirnya beliau memutuskan untuk menetap disana.</p>
<p>Semenjak beliau menetap disana, mulai terkenallah daerah tersebut. Disana beliau mulai menyebarkan-luaskan As-Sunnah. Banyak orang disana yang insyaf dan kembali kepada As-Sunnah berkat beliau. Beliau berhasil menyelamatkan keturunannya dari fitnah jaman.</p>
<p>Masuknya beliau ke Hadramaut dan menetap disana banyak mendatangkan jasa besar. Sehingga berkata seorang ulama besar, Al-Imam Fadhl bin Abdullah bin Fadhl, “Keluar dari mulutku ungkapan segala puji kepada Allah. Barangsiapa yang tidak menaruh rasa husnudz dzon kepada keluarga Ba’alawy, maka tidak ada kebaikan padanya.” Hadramaut menjadi mulia berkat keberadaan beliau dan keturunannya disana. Sulthanah binti Ali Az-Zabiidy (semoga Allah merahmatinya) telah bermimpi bertemu Rasulullah SAW, dimana di mimpi tersebut Rasulullah SAW masuk ke dalam kediaman salah seorang Saadah Ba’alawy, sambil berkata, “Ini rumah orang-orang tercinta. Ini rumah orang-orang tercinta.”</p>
<p>Radhiyallohu anhu wa ardhah…</p>
<p>[Disarikan dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba’alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba’alawy]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cintaallah.org/al-imam-ahmad-al-muhajir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Al-Imam Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad</title>
		<link>http://cintaallah.org/al-imam-al-faqih-al-muqaddam-muhammad/</link>
		<comments>http://cintaallah.org/al-imam-al-faqih-al-muqaddam-muhammad/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 May 2013 06:37:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hamba Allah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Wali Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Profil Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[alfaqih muqaddam]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[profile alfaqih muqaddam]]></category>
		<category><![CDATA[profile ulama alfaqih muqaddam]]></category>
		<category><![CDATA[thariqah alawiyin]]></category>
		<category><![CDATA[ulama alawiyin]]></category>
		<category><![CDATA[ulama yaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cintaallah.org/?p=1359</guid>
		<description><![CDATA[[Al-Imam Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad - Ali - Muhammad Shohib Mirbath - Ali Khali’ Qasam - Alwi - Muhammad - Alwi - Ubaidillah - Ahmad Al-Muhajir - Isa Ar-Rumi - Muhammad An-Naqib - Ali Al-’Uraidhi - Ja’far Ash-Shodiq - Muhammad Al-Baqir - Ali Zainal Abidin - Husain - Fatimah Az-Zahro - Muhammad SAW] Beliau adalah Al-Imam [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://cintaallah.org/wp-content/uploads/2013/05/kota-tarim.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-1361" alt="Kota tarim" src="http://cintaallah.org/wp-content/uploads/2013/05/kota-tarim-300x215.jpg" width="600" height="400" /></a></p>
<p>[Al-Imam Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad - Ali - Muhammad Shohib Mirbath - Ali Khali’ Qasam - Alwi - Muhammad - Alwi - Ubaidillah - Ahmad Al-Muhajir - Isa Ar-Rumi - Muhammad An-Naqib - Ali Al-’Uraidhi - Ja’far Ash-Shodiq - Muhammad Al-Baqir - Ali Zainal Abidin - Husain - Fatimah Az-Zahro - Muhammad SAW]</p>
<p>Beliau adalah Al-Imam Muhammad bin Ali bin Muhammad Shohib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa, dan terus bersambung nasabnya sampai Rasulullah SAW. Beliau dijuluki dengan Al-Faqih Al-Muqaddam (seorang faqih yang diunggulkan).<span id="more-1359"></span></p>
<p>Beliau adalah al-’arif billah, seorang ulama besar, pemuka para imam dan guru, suri tauladan bagi al-’arifin, penunjuk jalan bagi as-salikin, seorang qutub yang agung, imam bagi Thariqah Alawiyyah, seorang yang mendapatkan kewalian rabbani dan karomah yang luar biasa, seorang yang mempunyai jiwa yang bersih dan perjalanan hidupnya terukir dengan indah.</p>
<p>Beliau adalah seorang yang diberikan keistimewaan oleh Allah SWT, sehingga beliau mampu menyingkap rahasia ayat-ayat-Nya. Ditambah lagi Allah memberikannya kemampuan untuk menguasai berbagai macam ilmu, baik yang dhohir ataupun yang bathin.</p>
<p>Beliau dilahirkan pada tahun 574 H. Beliau mengambil ilmu dari para ulama besar di jamannya. Di antaranya adalah Al-Imam Al-Allamah Al-Faqih Abul Hasan Ali bin Ahmad bin Salim Marwan Al-Hadhrami At-Tarimi. Al-Imam Abul Hasan ini adalah seorang guru yang agung, pemuka para ulama besar di kota Tarim. Selain itu beliau (Al-Faqih Al-Muqaddam) juga mengambil ilmu dari Al-Faqih Asy-Syeikh Salim bin Fadhl dan Al-Imam Al-Faqih Abdullah bin Abdurrahman bin Abu Ubaid (pengarang kitab Al-Ikmal Ala At-Tanbih). Gurunya itu, yakni Al-Imam Abdullah bin Abdurrahman, tidak memulai pelajaran kecuali kalau Al-Faqih Al-Muqaddam sudah hadir. Selain itu beliau (Al-Fagih Al-Muqaddam) juga mengambil ilmu dari beberapa ulama besar lainnya, diantaranya Al-Qadhi Al-Faqih Ahmad bin Muhammad Ba’isa, Al-Imam Muhammad bin Ahmad bin Abul Hubbi, Asy-Syeikh Sufyan Al-Yamani, As-Sayyid Al-Imam Al-Hafidz Ali bin Muhammad bin Jadid, As-Sayyid Al-Imam Salim bin Bashri, Asy-Syeikh Muhammad bin Ali Al-Khatib, Asy-Syeikh As-Sayyid Alwi bin Muhammad Shohib Mirbath (paman beliau) dan masih banyak lagi.</p>
<p>Dalam mengambil sanad keilmuan dan thariqahnya, beliau mengambil dari dua jalur sekaligus. Jalur pertama adalah beliau mengambil dari orangtua dan pamannya, orangtua dan pamannya mengambil dari kakeknya, dan terus sambung-menyambung dan akhirnya sampai kepada Rasulullah SAW. Adapun jalur yang kedua, beliau mengambil dari seorang ulama besar dan pemuka ahli sufi, yaitu Sayyidina Asy-Syeikh Abu Madyan Syu’aib, melalui dua orang murid Asy-Syeikh Abu Madyan, yaitu Abdurrahman Al-Maq’ad Al-Maghrobi dan Abdullah Ash-Sholeh Al-Maghrobi. Kemudian Asy-Syeikh Abu Madyan mengambil dari gurunya, gurunya mengambil dari gurunya, dan terus sambung-menyambung dan akhirnya sampai kepada Rasulullah SAW.</p>
<p>Di masa-masa awal pertumbuhannya, beliau menjalaninya dengan penuh kesungguhan dan mencari segala hal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Beliau berpegang teguh pada Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah, serta mengikuti jejak-jejak para Sahabat Nabi dan para Salafus Sholeh. Beliau ber-mujahadah dengan keras dalam mendidik akhlaknya dan menghiasinya dengan adab-adab yang sesuai dengan syariah.</p>
<p>Beliau juga giat dalam menuntut ilmu, sehingga mengungguli ulama-ulama di jamannya dalam penguasaan berbagai macam ilmu. Para ulama di jamannya pun mengakui akan ketinggian dan penguasaannya dalam berbagai macam ilmu. Mereka juga mengakui kesempurnaan yang ada pada diri beliau untuk menyandang sebagai imam di jamannya.</p>
<p>Mujahadah beliau di masa-masa awal pertumbuhannya bagaikan mujahadahnya orang-orang yang sudah mencapai maqam al-’arif billah. Allah-lah yang mengaruniai kekuatan dan keyakinan di dalam diri beliau. Allah-lah juga yang mengaruniai beliau berbagai macam keistimewaan dan kekhususan yang tidak didapatkan oleh para qutub yang lainnya. Hati beliau tidak pernah kosong sedetikpun untuk selalu berhubungan dengan Allah. Sehingga tampak pada diri beliau asrar, waridad, mawahib dan mukasyafah.</p>
<p>Beliau adalah seorang yang tawadhu dan menyukai ketertutupan di setiap keadaannya. Beliau pernah berkirim surat kepada seorang pemuka para ahli sufi yang bernama Asy-Syeikh Sa’ad bin Ali Adz-Dzofari. Setelah Asy-Syeikh Sa’ad membaca surat itu dan merasakan kedalaman isi suratnya, ia terkagum-kagum dan merasakan asrar dan anwar yang ada di dalamnya. Kemudian ia membalas surat tersebut, dan di akhir suratnya ia berkata, <span style="color: #008000;">“Engkau, wahai Faqih, orang yang diberikan karunia oleh Allah yang tidak dipunyai oleh siapapun. Engkau adalah orang yang paling mengerti dengan syariah dan haqiqah, baik yang dhohir maupun yang bathin.”</span></p>
<p>Berkata Al-Imam Asy-Syeikh Abdurrahman As-Saggaf tentang diri Al-Faqih Al-Muqaddam, “Aku tidak pernah melihat atau mendengar suatu kalam yang lebih kuat daripada kalamnya Al-Faqih Muhammad bin Ali, kecuali kalamnya para Nabi alaihimus salam. Kami tidak dapat mengunggulkan seorang wali pun terhadapnya (Al-Faqih Al-Muqaddam), kecuali dari golongan Sahabat Nabi, atau orang yang diberikan kelebihan melalui Hadits seperti Uwais (Al-Qarni) atau selainnya.”</p>
<p>Beliau, Al-Faqih Al-Muqaddam, pernah berkata, “Aku terhadap masyakaratku seperti awan.” Suatu hari dikisahkan bahwa beliau pernah tertinggal pada saat ziarah ke kubur Nabiyallah Hud alaihis salam. Beliau berkisah, “Pada suatu saat aku duduk di suatu tempat yang beratap tinggi. Tiba-tiba datanglah Nabiyallah Hud ke tempatku sambil membungkukkan badannya agar tak terkena atap. Lalu ia berkata kepadaku, ‘Wahai Syeikh, jika engkau tidak berziarah kepadaku, maka aku akan berziarah kepadamu.’”</p>
<p>Dikisahkan juga bahwa pada suatu saat ketika beliau sedang duduk-duduk bersama para sahabatnya, datanglah Nabi Khidir alaihis salam menyerupai seorang badui dan diatas kepalanya terdapat kotoran. Bangunlah Al-Faqih Al-Muqaddam, lalu mengambil kotoran tersebut dari kepalanya dan kemudian memakannya. Kejadian tersebut membuat para sahabatnya terheran-heran. Akhirnya mereka bertanya, “Siapakah orang itu?.” Maka Al-Faqih Al-Muqaddam menjawab, “Dia adalah Nabi Khidir alaihis salam.”</p>
<p>Beliau, Al-Faqih Al-Muqaddam, banyak menghasilkan para ulama besar di jamannya. Beberapa ulama besar berhasil dalam didikan beliau. Yang paling terutama adalah dua orang muridnya, yaitu Asy-Syeikh Abdullah bin Muhammad ‘Ibad dan Asy-Syeikh Sa’id bin Umar Balhaf. Selain keduanya, banyak juga ulama-ulama besar yang berhasil digembleng oleh beliau, diantaranya Asy-Syekh Al-Kabir Abdullah Baqushair, Asy-Syeikh Abdurrahman bin Muhammad ‘Ibad, Asy-Syeikh Ali bin Muhammad Al-Khatib dan saudaranya Asy-Syeikh Ahmad, Asy-Syeikh Sa’ad bin Abdullah Akdar dan saudara-saudara sepupunya, dan masih banyak lagi.</p>
<p>Beliau wafat pada tahun 653 H, akhir dari bulan Dzulhijjah. Jazad beliau disemayamkan di pekuburan Zanbal, di kota Tarim. Banyak masyarakat yang berduyun-duyun menghadiri prosesi pemakaman beliau. Beliau meninggalkan 5 orang putra, yaitu Alwi, Abdullah, Abdurrahman, Ahmad dan Ali.</p>
<p>Radhiyallohu anhu wa ardhah…</p>
<p>[Disarikan dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba’alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba’alawy]</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cintaallah.org/al-imam-al-faqih-al-muqaddam-muhammad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nasehat Imam Ghazali dalam Menjalin Petemanan</title>
		<link>http://cintaallah.org/nasehat-imam-ghazali-dalam-menjalin-petemanan/</link>
		<comments>http://cintaallah.org/nasehat-imam-ghazali-dalam-menjalin-petemanan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 May 2013 01:09:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hamba Allah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[menjalin pertemanan]]></category>
		<category><![CDATA[menjalin teman]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat menjalin sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat teman]]></category>
		<category><![CDATA[persahabatan]]></category>
		<category><![CDATA[pertemanan]]></category>
		<category><![CDATA[teman dalam islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cintaallah.org/?p=1354</guid>
		<description><![CDATA[1. Bila mencari teman untuk mencapai kebahagiaan AKHIRAT, maka perhatikan benar-benar perkara AGAMANYA 2. Bila mencari teman untuk mencapai kebahagiaan DUNIA, maka perhatikan benar-benar AHLAQ-NYA 3. Bila mencari teman untuk MENENANGKAN HATI DAN PIKIRAN, maka perhatikan benar-benar KESELAMATANMU dan KEJAHATANNYA 4. DAHULUKAN temanmu dalam urusan dunia &#8211; paling tidak bantulah mereka 5. BANTULAH temanmu dengan [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://cintaallah.org/wp-content/uploads/2013/05/sahabatan.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-1355" alt="nasehat teman,pertemanan,menjalin pertemanan,nasehat menjalin sahabat,persahabatan,pertemanan,teman dalam islam,menjalin teman" src="http://cintaallah.org/wp-content/uploads/2013/05/sahabatan.jpg" width="600" height="400" /></a></p>
<p>1. Bila mencari teman untuk mencapai kebahagiaan AKHIRAT, maka perhatikan benar-benar perkara AGAMANYA</p>
<p>2. Bila mencari teman untuk mencapai kebahagiaan DUNIA, maka perhatikan benar-benar AHLAQ-NYA</p>
<p>3. Bila mencari teman untuk MENENANGKAN HATI DAN PIKIRAN, maka perhatikan benar-benar KESELAMATANMU dan KEJAHATANNYA</p>
<p>4. DAHULUKAN temanmu dalam urusan dunia &#8211; paling tidak bantulah mereka</p>
<p>5. BANTULAH temanmu dengan tenagamu bia ia membutuhkannya SEBELUM DIA MEMINTANYA</p>
<p>6. Jaga RAHASIA temanmu, tutupilah keburukannya dan JANGAN PERBESAR kesalahannya yg sudah dibicarakan oleh orang lain</p>
<p>7. Sampaikan BERITA GEMBIRA atas perbuatan temanmu yang mendapat sambutan baik dari orang lain</p>
<p>8. Panggillah temanmu dengan PANGGILAN YANG PALING DISUKAINYA</p>
<p>9. Sampaikan TERIMA KASIH atas jasa baiknya.</p>
<p>10. PUJI dan HARGAI kebaikannya.</p>
<p>11. Jaga NAMA BAIK dan HARGA DIRINYA (MURU&#8217;AH)</p>
<p>12. Beri NASEHAT bila ia membutuhkannya</p>
<p>13. MAAFKAN kesalahannya dan jangan mencelanya</p>
<p>14. DOAKAN dia dalam masa hidupnya ataupun sesudah wafatnya</p>
<p>15. Jagalah SILATURRAHIM dengannya atau keluarganya saat masih hidup atau wafat.</p>
<p>16. Ringankan bebannya dan jangan menambahi dia dengan bebanmu</p>
<p>17. Ucapkan selamat (TAHNI&#8217;AH) atas kebahagiaan yang diperolehnya</p>
<p>18. Ikutlah bersimpati (TA&#8217;ZIYAH) bila ia mengalami kedukaan</p>
<p>19. Tanamkan rasa SETIA KAWAN</p>
<p>20. Ucapkan SALAM bila bertemu</p>
<p>21. Tempatkan dia di tempat yang layak dalam majlis</p>
<p>22. Hormati dia</p>
<p>23. JANGAN PUTUSKAN PEMBICARAANNYA bila dia belum selesai bicara</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cintaallah.org/nasehat-imam-ghazali-dalam-menjalin-petemanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->